Postingan

HUBUNGAN KITA MULAI RENGGANG SETELAH MENGETAHUI KAMU FANS MESSI

Gambar
Hubungan kita mulai renggang setelah mengetahui kamu fans Messi. Awalnya aku mengira perbedaan itu hanya gurauan ringan yang bisa ditertawakan di sela-sela percakapan malam. Namun seperti domino effect dalam teori kompleksitas, satu perbedaan kecil ternyata mampu menjatuhkan banyak hal yang selama ini berdiri kokoh. Kita masih berbicara tentang cinta, masa depan, dan perjuangan, tetapi ada sesuatu yang perlahan bergeser dari tempatnya. Rasanya seperti menyaksikan matahari terbenam lebih cepat dari biasanya. Aku sering memperhatikan caramu menyebut namanya dengan penuh kekaguman. Matamu menyala seperti lampu stadion pada malam final yang menentukan sejarah. Setiap statistik, trofi, dan momen magis kau ceritakan dengan antusiasme yang sulit kutandingi. Aku mendengarkan semuanya dengan sabar karena aku mencintaimu. Tetapi di dalam hati, aku menyimpan keyakinan yang tak pernah berubah bahwa Ronaldo adalah simbol yang berbeda. Bagiku, Ronaldo bukan sekadar pemain sepak bola. Ia ...

AIR MATA KERUH DALAM BEJANA II

Ada tempat-tempat yang sejak awal dibangun untuk menjaga ilmu tetap bermartabat. Pesantren dengan ketenangan dinding-dindingnya, kampus dengan ruang diskusinya yang luas. Keduanya seharusnya menjadi tempat manusia tumbuh—bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab. Namun akhir-akhir ini, ada sesuatu yang terasa bergeser: ilmu masih diajarkan, tapi kehormatan perlahan kehilangan tempatnya. Di lingkungan akademik, relasi sering dibungkus dengan istilah profesionalitas. Percakapan menjadi cair, batas dianggap fleksibel, dan kedekatan kadang tumbuh tanpa benar-benar dipertanyakan. Kampus memberi ruang bicara yang luas; semua orang bebas menyampaikan pandangan, membantah, bahkan melawan. Tapi ironisnya, kebebasan itu kadang dimanfaatkan oleh mereka yang paham bagaimana memainkan kuasa secara halus. Berbeda dengan pesantren. Di sana, kepatuhan tumbuh bersama tradisi penghormatan. Santri dibiasakan tunduk, percaya, dan menjaga takzim. Nilai itu mulia, tapi dalam situasi tertentu, ia bisa berubah ...

AIR MATA KERUH DALAM BEJANA I

Kerusakan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir pelan, memakai bahasa paling sopan, duduk di ruang-ruang yang dianggap suci, lalu tumbuh tanpa banyak dipertanyakan. Ada yang berbicara tentang ilmu di siang hari, lalu kehilangan batas ketika malam mulai sepi. Ada yang dihormati karena gelar dan jubahnya, tapi diam-diam gagal menjaga pikirannya sendiri. Di kampus, sebagian dosen terlalu paham bagaimana memainkan kedekatan. Semua dimulai dari hal-hal yang tampak biasa: candaan yang sedikit melenceng, obrolan larut malam dengan alasan akademik, perhatian yang dibungkus “bimbingan.” Kata-kata dipilih hati-hati agar terdengar normal, padahal arahnya perlahan menggeser batas. Mereka tahu bagaimana membuat seseorang ragu untuk merasa tidak nyaman. Di pesantren, bentuknya lebih sunyi. Takzim membuat banyak santri memilih diam bahkan ketika hatinya menolak. Ada yang memanfaatkan forum mengaji, semaan kitab, atau ruang konsultasi agama untuk membangun relasi yang tidak lagi seha...

NAKAL SILAKAN, BAJINGAN JANGAN

Gambar
Tuhan menciptakan manusia dengan dua hal yang selalu berjalan beriringan: kehormatan dan pilihan. Kehormatan itu dijaga dalam diam, sementara pilihan sering kali diuji dalam keramaian. Di antara keduanya, manusia kerap lupa—bahwa yang hilang tidak selalu kembali, dan yang retak tidak selalu bisa dipulihkan seperti semula. Di banyak sudut kehidupan, aku melihat cerita yang sama berulang. Anak-anak muda berjalan tanpa arah yang jelas, seolah dunia tidak punya batas. Malam dijadikan tempat membuang kesadaran, dan siang hanya sisa dari lelah yang tidak pernah diakui. Mereka menyebutnya hidup, padahal sering kali itu hanya cara halus untuk menghindari pulang. Masyarakat punya caranya sendiri dalam menyimpan cerita. Tidak semua diucapkan, tapi hampir semua dipahami. Ada bisik-bisik yang beredar tanpa nama, ada pandangan yang cukup menjelaskan tanpa kata. Noda-noda yang seharusnya tersembunyi tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berpindah dari ingatan ke ingatan, menunggu wakt...

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

Gambar
Aku tidak pernah membuat wishlist seseorang yang aku sayang pergi begitu saja. Barangkali dunia berjalan berdasar pada alam, makhluk hidup, lingkungan dan dengan pertanda-pertandanya. Siapa yang membuat keputusan untuk menghilangkan nyawa seseorang? siapa yang berhak? siapa yang berhak mengatur seseorang pergi dari dunia ini? Aku tidak menduga, semua keyakinan entah dalam ilmu religi, ilmu nenek moyang, semua berkaitan. Takdir memang unik dan sulit diprediksi. Aku punya seorang panutan dan kepala keluarga yang hebat. Simbol cinta, perjuangan, harapan, tanggung jawab dan hampir setiap kepala keluarga yang baik pasti melakukannya. Aku selalu percaya diri pada setiap langkah yang aku putuskan, karena aku percaya banyak orang-orang berdo'a dibelakangku yang membuat jalanku terus kuat dan langgeng. Ada banyak hal yang ingin aku persembahkan sebetulnya. Namun baru segelintir saja yang terasa. Alam pun terluka dan ikut menangis. Perihal Sedih barangkali ada orang lain lebih pa...

TERLIHAT CANTIK, LEWAT BEGITU SAJA

Gambar
Dulu, bahkan sebelum aku benar-benar mengerti arti jatuh hati, namamu sudah diam-diam menetap di pikiranku. Kali pertama aku menyukaimu, saat itu aku melihatmu muncul di sosial media wali kelasku—atau mungkin hanya sekadar bayangan yang terlalu ingin kupercaya. Sejak itu aku seperti mencari sesuatu yang belum tentu ada, menelusuri satu per satu nama di daftar hadir, berharap ada jejak yang mengarah padamu. Dan ketika aku merasa menemukan namamu, semuanya terasa sederhana, tapi anehnya begitu indah—seolah sejak saat itu aku tahu, aku tidak akan benar-benar melupakanmu. Untuk waktu yang panjang, aku hanya menyimpan semuanya sendiri. Aku tumbuh, berpindah dari satu fase ke fase lain, dari seragam sekolah hingga akhirnya berdiri di dunia yang lebih nyata. Tapi di antara semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah: perasaanku padamu tetap di tempat yang sama. Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara mendekatimu. Setiap kali ada kesempatan, aku memilih diam, seol...

LAILATUL QADR, I CHOSE YOU

Aku tidak pernah merencanakan akan mendambakan kamu sejauh ini. Semua terasa biasa di awal—pertemuan singkat, percakapan seperlunya, lalu kamu pergi seperti hari-hari lain yang tidak meninggalkan bekas. Tapi entah sejak kapan, ada sesuatu yang tertinggal, dan justru itu yang tidak pernah benar-benar pergi. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini tumbuh, yang jelas, aku sadar ketika semuanya sudah terlalu dalam untuk disebut kebetulan. Kamu tidak pernah berusaha menarik perhatian. Justru di situlah aku mulai memperhatikan. Caramu bersikap, caramu menjaga diri, seolah ada batas yang kamu pahami tanpa perlu dijelaskan. Di tengah dunia yang sering berisik, kamu terasa tenang dengan caramu sendiri. Dan dari situ, aku belajar bahwa tidak semua hal baik perlu ditunjukkan—beberapa cukup dirasakan oleh mereka yang peka. Aku tidak pernah benar-benar dekat denganmu. Bahkan mungkin, aku hanya seseorang yang lewat di antara banyak orang yang pernah kamu temui. Tapi anehnya, aku sering menemukan ...

JANGAN MENJADI LUKA

Hidup ini terlalu singkat untuk saling melukai tanpa sadar. Maka sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu diingat: jangan menjadi luka bagi orang lain. Jangan menjadi alasan seseorang menutup hari dengan air mata yang bahkan tidak kamu ketahui sebabnya. Dunia sudah cukup keras, dan manusia sering kali hanya butuh satu tempat yang tidak menambah beban di pundaknya. Ada orang yang merasa paling benar, paling kuat, paling pantas didengar. Mereka berjalan dengan keyakinan yang berlebihan, seolah dunia harus menyesuaikan diri dengan kehendaknya. Padahal dalam kehidupan, humility sering kali lebih berharga daripada kemenangan kecil yang dipaksakan. Tidak semua hal perlu dimenangkan, karena kadang yang paling penting justru menjaga agar tidak ada hati yang patah di belakang kita. Jangan menjadi alasan seseorang merasa terbebani oleh kehadiranmu. Cinta sekalipun, jika tidak dijaga dengan bijak, bisa berubah menjadi beban yang diam-diam menyesakkan. Dalam hubungan, ada yang disebut...

INTERESTING TASTE? AH SUDAHLAH

Aku mendengar kabar itu dari kamu dengan nada santai, seperti sedang mengumumkan hal kecil yang tidak terlalu penting. Kamu bilang sekarang sudah punya significant other. Aku tentu saja tersenyum, karena manusia yang beradab tidak boleh terlihat terlalu terkejut. Padahal di dalam hati aku sedang menegosiasikan banyak perasaan sekaligus. Aku mencoba menerima bahwa posisi yang dulu aku harapkan, kini ditempati oleh seseorang yang kamu sebut dengan penuh bangga itu. Aku berusaha berpikir positif tentang your chosen one. Kamu bilang dia baik, perhatian, dan punya selera humor yang lucu. Aku mengangguk saja, karena imajinasi manusia memang luas sekali. Tapi ketika aku melihat fotonya, aku mulai memahami satu teori lama. Rupanya benar, love is blind, bahkan kadang seperti lampu yang sengaja dimatikan dari awal. Tapi tenang saja, aku bukan orang yang mudah menghina. Aku sangat menjaga etika ketika membicarakan your special person. Bahkan ketika aku melihat wajahnya yang penuh karakter itu, ak...

12 + 12 = YOU

Ada hal-hal yang kadang lebih mudah dipahami lewat angka daripada lewat perasaan. Dalam matematika, dua belas ditambah dua belas selalu berakhir pada angka yang sama. Tidak pernah berubah, tidak pernah ragu. Rumusnya sederhana, jawabannya pasti. Tapi anehnya, setiap kali aku melihat hasil itu, pikiranku justru tidak berhenti pada angka. Bertahun-tahun aku mencoba memahami banyak hal dengan cara yang rasional. Aku percaya bahwa dunia berjalan dengan hukum yang jelas—seperti sains yang menjelaskan sebab dan akibat, atau matematika yang menenangkan karena segala sesuatu bisa dihitung. Namun ada satu bagian dari hidup yang tidak pernah berhasil kujelaskan dengan logika yang sama. Setiap kali aku mencoba menyederhanakannya, hasilnya selalu kembali pada satu hal yang sama: kamu. Awalnya mungkin hanya kebetulan kecil. Sebuah angka, sebuah tanggal, lalu ingatan yang muncul tanpa diminta. Lama-lama aku menyadari bahwa beberapa hal memang tidak datang untuk dijelaskan, melainkan untuk dirasakan....

NURANI SEPI DI SISA MALAM, TUHAN TERABAIKAN

Aku melihat banyak yang berdiri di tepi malam, menunggu namanya disebut tanpa pernah benar-benar ditanya apakah hatinya siap. Keinginan-keinginan liar datang seperti tamu yang selalu dimuliakan, sementara harga diri dibiarkan menunggu di luar pintu. Semua terasa seperti pilihan yang wajar, seolah tidak ada yang benar-benar hilang selama senyum masih bisa dipasang. Padahal setiap panggilan sering kali hanya jalan sunyi menuju kerugian yang tak langsung terasa. Kenikmatan sesaat pandai menyamar, seakan ia hadiah, padahal sering kali hanya jebakan yang halus. Aku pernah melihat yang seperti itu, berdiri canggung di pinggir malam, seolah ingin pulang tapi tak tahu harus ke mana. Wajahnya masih terlalu muda untuk terlihat setegar itu, tapi matanya menyimpan lelah yang tak biasa. Ia bicara seperlunya saja, seakan setiap kata harus dijaga agar tak membuka rahasia. Dari caranya diam, terasa ada hidup yang dijalani bukan karena ingin, melainkan karena terpaksa. Sejak saat itu aku tahu, tidak se...

BUKAN ATAU BAHKAN SEHARUSNYA

Siapa yang paling bertanggung jawab saat seorang pria jatuh cinta? Siapa yang harus disalahkan ketika rindu tumbuh tanpa izin, ketika harapan menyusun masa depan yang tak pernah dijanjikan? Apakah hati yang terlalu cepat percaya, atau tatapanmu yang terlalu mudah dimaknai? Aku ingin menunjuk sesuatu, siapa saja, agar ada yang bisa kupersalahkan. Karena menerima kenyataan terasa jauh lebih menyakitkan daripada marah pada keadaan. Aku tidak pernah meminta perasaan ini datang sedalam ini. Ia tumbuh perlahan, lalu tiba-tiba mengakar. Aku merawatnya diam-diam, memberinya ruang, membiarkannya hidup dalam kemungkinan yang kubangun sendiri. Dan hari itu, ketika aku melihatmu berjalan bersamanya, semua kemungkinan itu runtuh dalam satu pandangan. Tidak ada peringatan. Tidak ada jeda untuk bersiap. Aku tidak terima. Bukan karena kamu memilihnya, tapi karena aku merasa sempat memiliki peluang yang tak pernah benar-benar ada. Selama ini aku membaca tanda yang mungkin hanya kebetulan. Aku mengartik...

JARAK YANG TIBA-TIBA NYATA

Aku tidak merencanakan pertemuan itu. Langkahku biasa saja, pikiranku kosong, sampai mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—kamu. Dunia tidak berhenti, tidak ada musik latar, hanya detik yang terasa lebih lambat dari biasanya. Lalu aku melihatnya: kamu berjalan di samping seorang lelaki, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Di situ, jarak yang selama ini samar mendadak menjadi nyata. Aku berdiri sejenak, cukup lama untuk menyadari bahwa perasaanku belum sepenuhnya pergi. Tapi juga cukup singkat untuk tidak mempermalukan diriku sendiri. Kamu tampak baik-baik saja, bahkan lebih tenang dari terakhir kali kita berbincang. Senyummu tidak berubah, hanya tujuannya yang kini berbeda. Dan entah kenapa, melihatmu utuh di hidup orang lain terasa seperti membaca kalimat penutup dari buku yang tak pernah sempat kuselesaikan. Aku tidak marah. Tidak juga ingin bertanya. Ada fase di mana hati sudah terlalu lelah untuk menuntut penjelasan. Aku hanya mengangguk kecil, pada diriku sendiri, seolah b...

KEPADA AKU

Kepada aku, yang dulu terlalu sibuk menulis tentang seseorang sampai lupa menuliskan tentang diri sendiri. Hari ini, biarlah aku menulis untukmu — bukan tentang siapa yang pergi, tapi tentang siapa yang harus tetap bertahan. Sudah terlalu lama aku menjadikan cinta sebagai alasan untuk menyiksa diri sendiri, seolah mencintai seseorang berarti menghapus segala yang aku butuhkan. Padahal, cinta yang baik seharusnya menumbuhkan, bukan mengikis pelan-pelan apa yang kita punya. Dulu, aku berpikir bahwa mencintai adalah tentang seberapa jauh aku bisa berkorban. Aku menunggu pesan yang tak datang, mencari tanda di tempat yang salah, dan menaruh harapan di dada yang tidak lagi punya ruang untukku. Semua itu kulakukan tanpa menyadari bahwa aku sedang perlahan kehilangan arah — bukan karena dia, tapi karena aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri atas perasaan yang tulus. Aku ingat betul masa-masa di mana malam menjadi saksi dari banyak keheningan. Aku menulis namanya di banyak catatan, ...

SEDARI DULU, SELAMA INI AKU MASIH MENCINTAIMU

Pernahkah kamu mengingat sesuatu yang amat sulit untuk ku akui? Bukan dengan keramaian seperti di awal perasaan itu tumbuh, tapi dengan diam yang perlahan belajar untuk tenang. Waktu sudah banyak berlalu, membawaku pada banyak hal baru, tapi setiap kali aku berhenti sejenak, ada ruang kecil dalam hati yang tetap mengingatmu. Aku tidak ingin membesar-besarkan rasa ini, hanya mengakui bahwa ia masih ada — sederhana, tapi jujur. Aku tak yakin ini masih cinta, atau hanya bentuk penghargaan terhadap seseorang yang pernah begitu berarti. Tapi setiap kali aku mencoba menghapus namamu dari pikiran, yang hilang justru sebagian dari diriku sendiri. Kamu telah menjadi bagian dari perjalanan, bukan sekadar kenangan. Seperti halaman lama yang tak lagi kubaca, tapi tidak tega kusingkirkan, karena di sanalah aku pernah benar-benar merasa hidup. Waktu terus berjalan, dan aku pun berubah. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan perasaan sebagai pusat segalanya. Aku mulai memahami bahwa kehilangan juga ...

TUHAN, SEPERTINYA VOUCHERKU MASIH TERSISA

Tuhan,  sepertinya ada sesuatu yang belum habis. Aku pikir masa untuk jatuh cinta sudah lewat, bahwa aku cukup menjadi penonton bagi orang lain yang berbahagia. Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dalam diri — bukan gejolak, melainkan keyakinan kecil bahwa aku masih bisa mencoba lagi. Mungkin Engkau sedang memberi isyarat halus bahwa tidak semua kisah berakhir di sunyi. Aku pernah menyerah pada urusan hati. Terlalu banyak janji yang tidak dijaga, terlalu sering percaya pada kata yang tak bermakna. Waktu berjalan, dan aku belajar diam. Aku membangun benteng yang membuatku terlihat kuat, padahal aku hanya tidak ingin terluka lagi. Tapi bahkan di antara kesepian yang panjang, aku tahu: hati manusia tidak diciptakan untuk berhenti berharap. Ia hanya perlu waktu untuk tenang sebelum berani membuka diri lagi. Kini aku tidak menuntut cinta yang besar atau kisah yang megah. Aku hanya ingin seseorang yang bisa diajak berbagi keheningan tanpa merasa canggung. Seseora...

SELAMAT PAGI, JOGJA

Selamat pagi, Jogja. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk mencari sesuatu yang pernah hilang — rasa yang dulu membuat jantungku berdetak tanpa alasan. Setiap sudut kotamu masih sama, aroma kopi dari warung kecil di dekat stasiun, langkah orang-orang yang bergegas menuju kampus, dan senyum asing yang kadang membuat hati tiba-tiba hangat. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kenangan. Ada yang bilang, Jogja selalu menyimpan cinta di tiap embusan angin paginya. Aku percaya itu, karena entah bagaimana, setiap kali aku menatap matahari terbit di Tugu, aku merasa sedang menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang. Cinta di kota ini seperti lagu yang lembut — tidak pernah benar-benar usai, hanya berganti lirik dari satu hati ke hati lain. Aku pernah jatuh cinta di sini, pada seseorang yang mengajarkan bahwa rindu bisa tumbuh bahkan tanpa janji. Dia seperti buku yang tidak sempat kuselesaikan, dan setiap kali aku membuka halaman barunya, yang ku...

MAR? NAMAMU TERDENGAR SAMAR

Ada nama yang masih bergetar di antara ingatan, meski waktu berusaha mengaburkannya. Mar, begitu samar terdengar di telinga, seakan hanya bisikan angin yang enggan benar-benar pergi. Aku tidak tahu mengapa setiap huruf darinya bisa membuatku terhenti. Barangkali memang ada nama yang ditakdirkan hidup lebih lama dalam dada, ketimbang sekadar diucapkan. Aku ingat kali pertama mendengarmu dipanggil, ada denyut yang sulit dijelaskan. Sesuatu di dalam diriku merespons seolah sudah mengenalmu jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Nama itu sederhana, tapi memiliki gema yang panjang. Seperti nada yang tidak selesai dipetik, dibiarkan menggantung, tapi tetap terdengar indah. Marrr shh rrkh, aku sering kali berusaha meyakinkan diri bahwa kamu hanyalah bagian kecil dari cerita yang lewat. Namun, setiap percakapan singkat dengamu selalu menggoreskan kesan yang panjang. Aku seperti sedang berjalan di jalan sempit yang diapit tembok tinggi—sulit mencari jalan keluar, namun enggan juga berbalik arah. D...

JATUH HATI DI WAKTU YANG LAMA APA MASIH PANTAS DISEBUT JATUH CINTA?

Ibarat hujan yang tak kunjung reda, rasa ini seakan bertahan di satu musim. Aku tidak pernah tahu mengapa, setiap kali mengingatmu, hatiku masih bergetar dengan cara yang sama. Mungkin jatuh cinta memang tidak membutuhkan alasan, cukup sebuah tatap yang membekas. Dan aku masih terjebak di dalamnya, meski waktu terus mengikis. Ada yang bilang, cinta butuh keberanian untuk diucapkan sebelum terlambat. Tapi bagaimana jika waktu justru berjalan begitu lama, dan aku masih saja terjebak pada rasa yang sama? Aku pernah jatuh hati padamu, sederhana, tanpa banyak pertemuan, tanpa janji. Hanya lewat perhatian kecil, cara bicaramu, dan kehangatan yang tak pernah kutemukan di tempat lain.  Waktu berlalu, jarak menjauhkan, percakapan terputus. Namun setiap kali namamu terlintas, dada ini tetap bergetar seperti pertama kali aku mengenalmu. Apakah ini cinta, atau hanya kenangan yang terlalu enggan pergi? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa ini masih hidup, meski tidak lagi punya tempat untuk bertum...

WHERE IS YOU? (sebuah catatan ringan, dari aku yang tidak sedang bercanda sepenuhnya)

Ada satu masa yang sebenarnya belum terlalu lama berlalu, tetapi terasa seakan berasal dari waktu yang berbeda. Masa ketika mengenalmu tidak perlu disertai peta hidup lima tahun ke depan. Aku hanya mendengarkanmu, kamu menanggapi, dan keberadaanmu sudah cukup membuat semuanya terasa hangat. Tak ada target yang harus dicapai, tak ada ekspektasi untuk dipenuhi, bahkan tak ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan terlalu serius. Semua mengalir dengan sendirinya—seperti senyum kecil yang muncul tanpa diminta. Aku masih ingat, waktu itu aku sempat bergurau, bahwa singkatan SW yang lazim dikenal sebagai “Story WhatsApp” lebih cocok disebut “Sarung Wadimor”. Aku tidak tahu apakah itu lucu atau justru sangat tidak lucu, tapi kamu tertawa. Tertawa seperti anak kecil yang belum mengenal istilah peran sosial. Ringan, jujur, dan tanpa beban. Mungkin, itu adalah salah satu detik di mana aku merasa: ya, segalanya masuk akal saat kamu tertawa seperti itu. Kamu dan aku pernah tenggelam dalam percakapa...