TERLIHAT CANTIK, LEWAT BEGITU SAJA
Dulu, bahkan sebelum aku benar-benar mengerti arti jatuh hati, namamu sudah diam-diam menetap di pikiranku. Kali pertama aku menyukaimu, saat itu aku melihatmu muncul di sosial media wali kelasku—atau mungkin hanya sekadar bayangan yang terlalu ingin kupercaya. Sejak itu aku seperti mencari sesuatu yang belum tentu ada, menelusuri satu per satu nama di daftar hadir, berharap ada jejak yang mengarah padamu. Dan ketika aku merasa menemukan namamu, semuanya terasa sederhana, tapi anehnya begitu indah—seolah sejak saat itu aku tahu, aku tidak akan benar-benar melupakanmu.
Untuk waktu yang panjang, aku hanya menyimpan semuanya sendiri. Aku tumbuh, berpindah dari satu fase ke fase lain, dari seragam sekolah hingga akhirnya berdiri di dunia yang lebih nyata. Tapi di antara semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah: perasaanku padamu tetap di tempat yang sama.
Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara mendekatimu. Setiap kali ada kesempatan, aku memilih diam, seolah-olah jarak adalah cara paling aman untuk menjaga semuanya tetap utuh. Aku takut menjadi seseorang yang biasa saja di matamu, atau bahkan tidak terlihat sama sekali.
Ingatan tentangmu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi di sela-sela kesibukan, muncul di waktu yang tidak terduga. Dan kemarin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihatmu lagi—bukan dalam bayangan, tapi nyata, di jalan, mengendarai sepeda motor seperti hari-hari biasa.
Melihatmu saat itu membuat semuanya terasa kembali. Kamu tetap sama—tenang, sederhana, dan entah bagaimana masih memiliki cara untuk membuatku berhenti sejenak. Bukan hanya karena kamu cantik, tapi karena ada sesuatu dalam dirimu yang selalu terasa berbeda.
Aku sadar, selama ini aku tidak pernah benar-benar melepaskan rasa itu. Ia hanya diam, menunggu tanpa kepastian. Dan pertemuan singkat itu seperti mengingatkanku bahwa aku sudah terlalu lama hanya menjadi penonton dalam ceritaku sendiri.
Tidak mudah untuk mengakui bahwa aku masih menginginkanmu setelah semua waktu yang berlalu. Tapi lebih tidak mudah lagi jika aku terus memilih diam tanpa pernah mencoba. Aku tidak ingin lagi hanya menyimpan rasa tanpa arah. Aku berharap kamu tidak abai—bukan pada perasaanku, tapi pada kemungkinan kecil yang mungkin sedang mencoba datang dengan cara yang sederhana.
Untuk pertama kalinya, aku ingin melangkah. Bukan dengan terburu-buru, tapi dengan niat yang jelas. Aku ingin mengenalmu, dari mana kamu berasal, siapa orang-orang terdekatmu, bagaimana keluargamu—hal-hal sederhana yang selama ini hanya bisa kubayangkan tanpa pernah benar-benar aku tahu. Aku ingin mengenalmu dengan cara yang baik, tanpa merusak apa pun yang sudah kamu jaga.
Barangkali dalam namamu tersimpan harapan besar “Perempuan yang suci dan bercahaya, yang selalu membawa kebahagiaan dan kelapangan hati.” Lalu jika suatu hari nanti aku benar-benar berdiri di hadapanmu, aku ingin itu bukan karena kebetulan semata—
> melainkan karena aku akhirnya berani memperjuangkan seseorang yang sejak dulu sudah kupilih, bahkan sebelum aku benar-benar mengenalnya.
Komentar
Posting Komentar