SELAMAT PAGI, JOGJA
Selamat pagi, Jogja. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk mencari sesuatu yang pernah hilang — rasa yang dulu membuat jantungku berdetak tanpa alasan. Setiap sudut kotamu masih sama, aroma kopi dari warung kecil di dekat stasiun, langkah orang-orang yang bergegas menuju kampus, dan senyum asing yang kadang membuat hati tiba-tiba hangat. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kenangan.
Ada yang bilang, Jogja selalu menyimpan cinta di tiap embusan angin paginya. Aku percaya itu, karena entah bagaimana, setiap kali aku menatap matahari terbit di Tugu, aku merasa sedang menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang. Cinta di kota ini seperti lagu yang lembut — tidak pernah benar-benar usai, hanya berganti lirik dari satu hati ke hati lain.
Aku pernah jatuh cinta di sini, pada seseorang yang mengajarkan bahwa rindu bisa tumbuh bahkan tanpa janji. Dia seperti buku yang tidak sempat kuselesaikan, dan setiap kali aku membuka halaman barunya, yang kutemukan hanyalah bayangan. Mungkin itu sebabnya aku selalu kembali ke Jogja — untuk mencari sisa-sisa diriku yang pernah ia sentuh.
Di antara hiruk-pikuk Malioboro dan senyum penjaja gudeg, aku menemukan kembali kesunyian yang manis. Aku tahu, cinta tidak selalu tentang memiliki, kadang ia hanya tentang mengingat dengan tenang. Mungkin di kota ini, aku belajar arti melepaskan dengan cara yang paling halus — seperti angin yang berhembus pelan lewat ujung kerudungmu dulu.
Aku melepas penat di tepi Kali Oya, membiarkan angin pagi menyentuh wajah dengan lembut, seolah menenangkan segala yang belum selesai di dalam diri. Airnya mengalir perlahan, jernih dan tenang, seakan membawa pesan tentang ikhlas dan keteguhan.
Di seberang, suara anak-anak bermain memecah kesunyian, sementara langit menggantung warna yang tak terburu-buru pudar. Aku duduk diam, hanya mendengar gemericik dan pikiranku sendiri, lalu sadar — barangkali begini rasanya berdamai: tidak sepenuhnya tenang, tapi cukup untuk berhenti melawan.
Kini, setiap pagi di Jogja terasa seperti panggilan lembut untuk terus mencari. Mencari cinta, bukan sekadar pada seseorang, tapi pada makna dari pertemuan, pada keberanian untuk merasa lagi. Di tengah riuh dunia yang serba cepat, aku memilih berjalan pelan — barangkali cinta itu tidak hilang, hanya menunggu ditemukan di waktu yang lebih tepat.
Dan jika suatu hari aku kembali menemuimu di kota ini, mungkin aku tidak akan lagi membawa rindu. Hanya segenggam doa, dan ucapan yang sederhana:
selamat pagi, Jogja — terima kasih sudah menyembunyikan cinta seindah itu di dalam dirimu.
Komentar
Posting Komentar