JARAK YANG TIBA-TIBA NYATA

Aku tidak merencanakan pertemuan itu. Langkahku biasa saja, pikiranku kosong, sampai mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—kamu. Dunia tidak berhenti, tidak ada musik latar, hanya detik yang terasa lebih lambat dari biasanya. Lalu aku melihatnya: kamu berjalan di samping seorang lelaki, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Di situ, jarak yang selama ini samar mendadak menjadi nyata.

Aku berdiri sejenak, cukup lama untuk menyadari bahwa perasaanku belum sepenuhnya pergi. Tapi juga cukup singkat untuk tidak mempermalukan diriku sendiri. Kamu tampak baik-baik saja, bahkan lebih tenang dari terakhir kali kita berbincang. Senyummu tidak berubah, hanya tujuannya yang kini berbeda. Dan entah kenapa, melihatmu utuh di hidup orang lain terasa seperti membaca kalimat penutup dari buku yang tak pernah sempat kuselesaikan.

Aku tidak marah. Tidak juga ingin bertanya. Ada fase di mana hati sudah terlalu lelah untuk menuntut penjelasan. Aku hanya mengangguk kecil, pada diriku sendiri, seolah berkata: ya, begini akhirnya. Beberapa rasa memang tidak diciptakan untuk berkembang, hanya untuk dikenali lalu ditinggalkan di tempat ia pertama kali tumbuh.

Kalian tertawa kecil, dan aku memilih menepi. Bukan karena kalah, tapi karena tahu diri. Ada perasaan yang pantas disimpan tanpa perlu dipamerkan pada keadaan. Aku tidak ingin menjadi kenangan canggung di sore hari kalian. Aku ingin tetap menjadi seseorang yang tahu kapan harus melangkah pergi tanpa suara.

Setelah itu, aku melanjutkan hari seperti biasa. Minum kopi yang sama, duduk di kursi yang sama, tapi dengan kesadaran baru. Ternyata melihatmu bersama orang lain tidak menghancurkanku—hanya menegaskan sesuatu yang selama ini kutunda untuk kuakui. Bahwa harapanku memang sudah selesai, hanya belum resmi ditutup.

Aku pulang dengan langkah lebih pelan. Bukan karena sedih yang berat, tapi karena hati sedang merapikan diri. Aku tidak lagi membayangkan kemungkinan, tidak lagi menyusun skenario. Yang tersisa hanyalah penerimaan yang dewasa: kamu bahagia, dan aku cukup tenang untuk tidak mengganggunya.

Ada pertemuan yang tidak dimaksudkan untuk dimiliki, hanya untuk memastikan bahwa kita benar-benar sudah sampai pada kata selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN HARI RAYA

KENAPA TIDAK MEMILIH MENJADI SEPERTI KARTINI?

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN