NAKAL SILAKAN, BAJINGAN JANGAN

Tuhan menciptakan manusia dengan dua hal yang selalu berjalan beriringan: kehormatan dan pilihan. Kehormatan itu dijaga dalam diam, sementara pilihan sering kali diuji dalam keramaian. Di antara keduanya, manusia kerap lupa—bahwa yang hilang tidak selalu kembali, dan yang retak tidak selalu bisa dipulihkan seperti semula.


Di banyak sudut kehidupan, aku melihat cerita yang sama berulang. Anak-anak muda berjalan tanpa arah yang jelas, seolah dunia tidak punya batas. Malam dijadikan tempat membuang kesadaran, dan siang hanya sisa dari lelah yang tidak pernah diakui. Mereka menyebutnya hidup, padahal sering kali itu hanya cara halus untuk menghindari pulang.

Masyarakat punya caranya sendiri dalam menyimpan cerita. Tidak semua diucapkan, tapi hampir semua dipahami. Ada bisik-bisik yang beredar tanpa nama, ada pandangan yang cukup menjelaskan tanpa kata. Noda-noda yang seharusnya tersembunyi tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berpindah dari ingatan ke ingatan, menunggu waktu untuk kembali disebut.


Ada yang mencoba menutupinya dengan diam. Ada yang berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ada pula yang memilih pergi, seolah jarak bisa menghapus apa yang sudah terjadi. Tapi kenyataannya, jejak tetap ada. Ia tidak selalu tampak, tapi selalu terasa—terutama bagi mereka yang harus memikulnya lebih lama dari yang lain.

Yang paling sunyi justru bukan mereka yang melakukan, tapi mereka yang ikut terkena akibatnya. Kehidupan kecil yang lahir dari keputusan yang belum matang, tumbuh di tengah pertanyaan yang tidak pernah mereka ajukan. Mereka tidak tahu apa-apa, tapi harus hidup di dunia yang sudah lebih dulu memberi beban sebelum mereka sempat memilih.


Dan masyarakat—dengan segala penilaiannya—sering kali lebih cepat menghakimi daripada memahami. Mereka lupa bahwa setiap cela punya cerita, setiap kekeliruan punya latar, dan setiap manusia pernah berada di titik yang hampir sama. Tapi lidah tetap lebih ringan daripada empati, dan penilaian lebih cepat daripada doa.

Aku tidak berbicara untuk menyalahkan. Aku hanya melihat, bahwa ini bukan lagi sekadar kenakalan yang bisa ditertawakan. Ini adalah arah yang perlahan hilang, dibungkus dengan kata “biasa saja”, lalu dibiarkan tumbuh tanpa ada yang berani menghentikan.


Karena pada akhirnya, Tuhan tidak pernah menutup cela manusia dengan sia-sia. Ia menutupnya agar manusia sempat memperbaiki, bukan untuk diulang tanpa rasa bersalah.

> Nakal mungkin masih bagian dari proses. Tapi ketika kehormatan mulai dianggap remeh, dan cela tidak lagi ditakuti—di situlah manusia bukan hanya jauh dari Tuhan, tapi juga kehilangan dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

SAID I LOVE YOU FOR 49 DAYS