Postingan

AIR MATA KERUH DALAM BEJANA II

Ada tempat-tempat yang sejak awal dibangun untuk menjaga ilmu tetap bermartabat. Pesantren dengan ketenangan dinding-dindingnya, kampus dengan ruang diskusinya yang luas. Keduanya seharusnya menjadi tempat manusia tumbuh—bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab. Namun akhir-akhir ini, ada sesuatu yang terasa bergeser: ilmu masih diajarkan, tapi kehormatan perlahan kehilangan tempatnya. Di lingkungan akademik, relasi sering dibungkus dengan istilah profesionalitas. Percakapan menjadi cair, batas dianggap fleksibel, dan kedekatan kadang tumbuh tanpa benar-benar dipertanyakan. Kampus memberi ruang bicara yang luas; semua orang bebas menyampaikan pandangan, membantah, bahkan melawan. Tapi ironisnya, kebebasan itu kadang dimanfaatkan oleh mereka yang paham bagaimana memainkan kuasa secara halus. Berbeda dengan pesantren. Di sana, kepatuhan tumbuh bersama tradisi penghormatan. Santri dibiasakan tunduk, percaya, dan menjaga takzim. Nilai itu mulia, tapi dalam situasi tertentu, ia bisa berubah ...

AIR MATA KERUH DALAM BEJANA I

Kerusakan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir pelan, memakai bahasa paling sopan, duduk di ruang-ruang yang dianggap suci, lalu tumbuh tanpa banyak dipertanyakan. Ada yang berbicara tentang ilmu di siang hari, lalu kehilangan batas ketika malam mulai sepi. Ada yang dihormati karena gelar dan jubahnya, tapi diam-diam gagal menjaga pikirannya sendiri. Di kampus, sebagian dosen terlalu paham bagaimana memainkan kedekatan. Semua dimulai dari hal-hal yang tampak biasa: candaan yang sedikit melenceng, obrolan larut malam dengan alasan akademik, perhatian yang dibungkus “bimbingan.” Kata-kata dipilih hati-hati agar terdengar normal, padahal arahnya perlahan menggeser batas. Mereka tahu bagaimana membuat seseorang ragu untuk merasa tidak nyaman. Di pesantren, bentuknya lebih sunyi. Takzim membuat banyak santri memilih diam bahkan ketika hatinya menolak. Ada yang memanfaatkan forum mengaji, semaan kitab, atau ruang konsultasi agama untuk membangun relasi yang tidak lagi seha...

NAKAL SILAKAN, BAJINGAN JANGAN

Gambar
Tuhan menciptakan manusia dengan dua hal yang selalu berjalan beriringan: kehormatan dan pilihan. Kehormatan itu dijaga dalam diam, sementara pilihan sering kali diuji dalam keramaian. Di antara keduanya, manusia kerap lupa—bahwa yang hilang tidak selalu kembali, dan yang retak tidak selalu bisa dipulihkan seperti semula. Di banyak sudut kehidupan, aku melihat cerita yang sama berulang. Anak-anak muda berjalan tanpa arah yang jelas, seolah dunia tidak punya batas. Malam dijadikan tempat membuang kesadaran, dan siang hanya sisa dari lelah yang tidak pernah diakui. Mereka menyebutnya hidup, padahal sering kali itu hanya cara halus untuk menghindari pulang. Masyarakat punya caranya sendiri dalam menyimpan cerita. Tidak semua diucapkan, tapi hampir semua dipahami. Ada bisik-bisik yang beredar tanpa nama, ada pandangan yang cukup menjelaskan tanpa kata. Noda-noda yang seharusnya tersembunyi tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berpindah dari ingatan ke ingatan, menunggu wakt...

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

Gambar
Aku tidak pernah membuat wishlist seseorang yang aku sayang pergi begitu saja. Barangkali dunia berjalan berdasar pada alam, makhluk hidup, lingkungan dan dengan pertanda-pertandanya. Siapa yang membuat keputusan untuk menghilangkan nyawa seseorang? siapa yang berhak? siapa yang berhak mengatur seseorang pergi dari dunia ini? Aku tidak menduga, semua keyakinan entah dalam ilmu religi, ilmu nenek moyang, semua berkaitan. Takdir memang unik dan sulit diprediksi. Aku punya seorang panutan dan kepala keluarga yang hebat. Simbol cinta, perjuangan, harapan, tanggung jawab dan hampir setiap kepala keluarga yang baik pasti melakukannya. Aku selalu percaya diri pada setiap langkah yang aku putuskan, karena aku percaya banyak orang-orang berdo'a dibelakangku yang membuat jalanku terus kuat dan langgeng. Ada banyak hal yang ingin aku persembahkan sebetulnya. Namun baru segelintir saja yang terasa. Alam pun terluka dan ikut menangis. Perihal Sedih barangkali ada orang lain lebih pa...

TERLIHAT CANTIK, LEWAT BEGITU SAJA

Gambar
Dulu, bahkan sebelum aku benar-benar mengerti arti jatuh hati, namamu sudah diam-diam menetap di pikiranku. Kali pertama aku menyukaimu, saat itu aku melihatmu muncul di sosial media wali kelasku—atau mungkin hanya sekadar bayangan yang terlalu ingin kupercaya. Sejak itu aku seperti mencari sesuatu yang belum tentu ada, menelusuri satu per satu nama di daftar hadir, berharap ada jejak yang mengarah padamu. Dan ketika aku merasa menemukan namamu, semuanya terasa sederhana, tapi anehnya begitu indah—seolah sejak saat itu aku tahu, aku tidak akan benar-benar melupakanmu. Untuk waktu yang panjang, aku hanya menyimpan semuanya sendiri. Aku tumbuh, berpindah dari satu fase ke fase lain, dari seragam sekolah hingga akhirnya berdiri di dunia yang lebih nyata. Tapi di antara semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah: perasaanku padamu tetap di tempat yang sama. Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara mendekatimu. Setiap kali ada kesempatan, aku memilih diam, seol...

LAILATUL QADR, I CHOSE YOU

Aku tidak pernah merencanakan akan mendambakan kamu sejauh ini. Semua terasa biasa di awal—pertemuan singkat, percakapan seperlunya, lalu kamu pergi seperti hari-hari lain yang tidak meninggalkan bekas. Tapi entah sejak kapan, ada sesuatu yang tertinggal, dan justru itu yang tidak pernah benar-benar pergi. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini tumbuh, yang jelas, aku sadar ketika semuanya sudah terlalu dalam untuk disebut kebetulan. Kamu tidak pernah berusaha menarik perhatian. Justru di situlah aku mulai memperhatikan. Caramu bersikap, caramu menjaga diri, seolah ada batas yang kamu pahami tanpa perlu dijelaskan. Di tengah dunia yang sering berisik, kamu terasa tenang dengan caramu sendiri. Dan dari situ, aku belajar bahwa tidak semua hal baik perlu ditunjukkan—beberapa cukup dirasakan oleh mereka yang peka. Aku tidak pernah benar-benar dekat denganmu. Bahkan mungkin, aku hanya seseorang yang lewat di antara banyak orang yang pernah kamu temui. Tapi anehnya, aku sering menemukan ...

JANGAN MENJADI LUKA

Hidup ini terlalu singkat untuk saling melukai tanpa sadar. Maka sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu diingat: jangan menjadi luka bagi orang lain. Jangan menjadi alasan seseorang menutup hari dengan air mata yang bahkan tidak kamu ketahui sebabnya. Dunia sudah cukup keras, dan manusia sering kali hanya butuh satu tempat yang tidak menambah beban di pundaknya. Ada orang yang merasa paling benar, paling kuat, paling pantas didengar. Mereka berjalan dengan keyakinan yang berlebihan, seolah dunia harus menyesuaikan diri dengan kehendaknya. Padahal dalam kehidupan, humility sering kali lebih berharga daripada kemenangan kecil yang dipaksakan. Tidak semua hal perlu dimenangkan, karena kadang yang paling penting justru menjaga agar tidak ada hati yang patah di belakang kita. Jangan menjadi alasan seseorang merasa terbebani oleh kehadiranmu. Cinta sekalipun, jika tidak dijaga dengan bijak, bisa berubah menjadi beban yang diam-diam menyesakkan. Dalam hubungan, ada yang disebut...