Postingan

12 + 12 = YOU

Ada hal-hal yang kadang lebih mudah dipahami lewat angka daripada lewat perasaan. Dalam matematika, dua belas ditambah dua belas selalu berakhir pada angka yang sama. Tidak pernah berubah, tidak pernah ragu. Rumusnya sederhana, jawabannya pasti. Tapi anehnya, setiap kali aku melihat hasil itu, pikiranku justru tidak berhenti pada angka. Bertahun-tahun aku mencoba memahami banyak hal dengan cara yang rasional. Aku percaya bahwa dunia berjalan dengan hukum yang jelas—seperti sains yang menjelaskan sebab dan akibat, atau matematika yang menenangkan karena segala sesuatu bisa dihitung. Namun ada satu bagian dari hidup yang tidak pernah berhasil kujelaskan dengan logika yang sama. Setiap kali aku mencoba menyederhanakannya, hasilnya selalu kembali pada satu hal yang sama: kamu. Awalnya mungkin hanya kebetulan kecil. Sebuah angka, sebuah tanggal, lalu ingatan yang muncul tanpa diminta. Lama-lama aku menyadari bahwa beberapa hal memang tidak datang untuk dijelaskan, melainkan untuk dirasakan....

NURANI SEPI DI SISA MALAM, TUHAN TERABAIKAN

Aku melihat banyak yang berdiri di tepi malam, menunggu namanya disebut tanpa pernah benar-benar ditanya apakah hatinya siap. Keinginan-keinginan liar datang seperti tamu yang selalu dimuliakan, sementara harga diri dibiarkan menunggu di luar pintu. Semua terasa seperti pilihan yang wajar, seolah tidak ada yang benar-benar hilang selama senyum masih bisa dipasang. Padahal setiap panggilan sering kali hanya jalan sunyi menuju kerugian yang tak langsung terasa. Kenikmatan sesaat pandai menyamar, seakan ia hadiah, padahal sering kali hanya jebakan yang halus. Aku pernah melihat yang seperti itu, berdiri canggung di pinggir malam, seolah ingin pulang tapi tak tahu harus ke mana. Wajahnya masih terlalu muda untuk terlihat setegar itu, tapi matanya menyimpan lelah yang tak biasa. Ia bicara seperlunya saja, seakan setiap kata harus dijaga agar tak membuka rahasia. Dari caranya diam, terasa ada hidup yang dijalani bukan karena ingin, melainkan karena terpaksa. Sejak saat itu aku tahu, tidak se...

BUKAN ATAU BAHKAN SEHARUSNYA

Siapa yang paling bertanggung jawab saat seorang pria jatuh cinta? Siapa yang harus disalahkan ketika rindu tumbuh tanpa izin, ketika harapan menyusun masa depan yang tak pernah dijanjikan? Apakah hati yang terlalu cepat percaya, atau tatapanmu yang terlalu mudah dimaknai? Aku ingin menunjuk sesuatu, siapa saja, agar ada yang bisa kupersalahkan. Karena menerima kenyataan terasa jauh lebih menyakitkan daripada marah pada keadaan. Aku tidak pernah meminta perasaan ini datang sedalam ini. Ia tumbuh perlahan, lalu tiba-tiba mengakar. Aku merawatnya diam-diam, memberinya ruang, membiarkannya hidup dalam kemungkinan yang kubangun sendiri. Dan hari itu, ketika aku melihatmu berjalan bersamanya, semua kemungkinan itu runtuh dalam satu pandangan. Tidak ada peringatan. Tidak ada jeda untuk bersiap. Aku tidak terima. Bukan karena kamu memilihnya, tapi karena aku merasa sempat memiliki peluang yang tak pernah benar-benar ada. Selama ini aku membaca tanda yang mungkin hanya kebetulan. Aku mengartik...

JARAK YANG TIBA-TIBA NYATA

Aku tidak merencanakan pertemuan itu. Langkahku biasa saja, pikiranku kosong, sampai mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—kamu. Dunia tidak berhenti, tidak ada musik latar, hanya detik yang terasa lebih lambat dari biasanya. Lalu aku melihatnya: kamu berjalan di samping seorang lelaki, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Di situ, jarak yang selama ini samar mendadak menjadi nyata. Aku berdiri sejenak, cukup lama untuk menyadari bahwa perasaanku belum sepenuhnya pergi. Tapi juga cukup singkat untuk tidak mempermalukan diriku sendiri. Kamu tampak baik-baik saja, bahkan lebih tenang dari terakhir kali kita berbincang. Senyummu tidak berubah, hanya tujuannya yang kini berbeda. Dan entah kenapa, melihatmu utuh di hidup orang lain terasa seperti membaca kalimat penutup dari buku yang tak pernah sempat kuselesaikan. Aku tidak marah. Tidak juga ingin bertanya. Ada fase di mana hati sudah terlalu lelah untuk menuntut penjelasan. Aku hanya mengangguk kecil, pada diriku sendiri, seolah b...

KEPADA AKU

Kepada aku, yang dulu terlalu sibuk menulis tentang seseorang sampai lupa menuliskan tentang diri sendiri. Hari ini, biarlah aku menulis untukmu — bukan tentang siapa yang pergi, tapi tentang siapa yang harus tetap bertahan. Sudah terlalu lama aku menjadikan cinta sebagai alasan untuk menyiksa diri sendiri, seolah mencintai seseorang berarti menghapus segala yang aku butuhkan. Padahal, cinta yang baik seharusnya menumbuhkan, bukan mengikis pelan-pelan apa yang kita punya. Dulu, aku berpikir bahwa mencintai adalah tentang seberapa jauh aku bisa berkorban. Aku menunggu pesan yang tak datang, mencari tanda di tempat yang salah, dan menaruh harapan di dada yang tidak lagi punya ruang untukku. Semua itu kulakukan tanpa menyadari bahwa aku sedang perlahan kehilangan arah — bukan karena dia, tapi karena aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri atas perasaan yang tulus. Aku ingat betul masa-masa di mana malam menjadi saksi dari banyak keheningan. Aku menulis namanya di banyak catatan, ...

SEDARI DULU, SELAMA INI AKU MASIH MENCINTAIMU

Pernahkah kamu mengingat sesuatu yang amat sulit untuk ku akui? Bukan dengan keramaian seperti di awal perasaan itu tumbuh, tapi dengan diam yang perlahan belajar untuk tenang. Waktu sudah banyak berlalu, membawaku pada banyak hal baru, tapi setiap kali aku berhenti sejenak, ada ruang kecil dalam hati yang tetap mengingatmu. Aku tidak ingin membesar-besarkan rasa ini, hanya mengakui bahwa ia masih ada — sederhana, tapi jujur. Aku tak yakin ini masih cinta, atau hanya bentuk penghargaan terhadap seseorang yang pernah begitu berarti. Tapi setiap kali aku mencoba menghapus namamu dari pikiran, yang hilang justru sebagian dari diriku sendiri. Kamu telah menjadi bagian dari perjalanan, bukan sekadar kenangan. Seperti halaman lama yang tak lagi kubaca, tapi tidak tega kusingkirkan, karena di sanalah aku pernah benar-benar merasa hidup. Waktu terus berjalan, dan aku pun berubah. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan perasaan sebagai pusat segalanya. Aku mulai memahami bahwa kehilangan juga ...

TUHAN, SEPERTINYA VOUCHERKU MASIH TERSISA

Tuhan,  sepertinya ada sesuatu yang belum habis. Aku pikir masa untuk jatuh cinta sudah lewat, bahwa aku cukup menjadi penonton bagi orang lain yang berbahagia. Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dalam diri — bukan gejolak, melainkan keyakinan kecil bahwa aku masih bisa mencoba lagi. Mungkin Engkau sedang memberi isyarat halus bahwa tidak semua kisah berakhir di sunyi. Aku pernah menyerah pada urusan hati. Terlalu banyak janji yang tidak dijaga, terlalu sering percaya pada kata yang tak bermakna. Waktu berjalan, dan aku belajar diam. Aku membangun benteng yang membuatku terlihat kuat, padahal aku hanya tidak ingin terluka lagi. Tapi bahkan di antara kesepian yang panjang, aku tahu: hati manusia tidak diciptakan untuk berhenti berharap. Ia hanya perlu waktu untuk tenang sebelum berani membuka diri lagi. Kini aku tidak menuntut cinta yang besar atau kisah yang megah. Aku hanya ingin seseorang yang bisa diajak berbagi keheningan tanpa merasa canggung. Seseora...