JARAK YANG TIBA-TIBA NYATA
Aku tidak merencanakan pertemuan itu. Langkahku biasa saja, pikiranku kosong, sampai mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—kamu. Dunia tidak berhenti, tidak ada musik latar, hanya detik yang terasa lebih lambat dari biasanya. Lalu aku melihatnya: kamu berjalan di samping seorang lelaki, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Di situ, jarak yang selama ini samar mendadak menjadi nyata. Aku berdiri sejenak, cukup lama untuk menyadari bahwa perasaanku belum sepenuhnya pergi. Tapi juga cukup singkat untuk tidak mempermalukan diriku sendiri. Kamu tampak baik-baik saja, bahkan lebih tenang dari terakhir kali kita berbincang. Senyummu tidak berubah, hanya tujuannya yang kini berbeda. Dan entah kenapa, melihatmu utuh di hidup orang lain terasa seperti membaca kalimat penutup dari buku yang tak pernah sempat kuselesaikan. Aku tidak marah. Tidak juga ingin bertanya. Ada fase di mana hati sudah terlalu lelah untuk menuntut penjelasan. Aku hanya mengangguk kecil, pada diriku sendiri, seolah b...