LAILATUL QADR, I CHOSE YOU
Aku tidak pernah merencanakan akan mendambakan kamu sejauh ini. Semua terasa biasa di awal—pertemuan singkat, percakapan seperlunya, lalu kamu pergi seperti hari-hari lain yang tidak meninggalkan bekas. Tapi entah sejak kapan, ada sesuatu yang tertinggal, dan justru itu yang tidak pernah benar-benar pergi. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini tumbuh, yang jelas, aku sadar ketika semuanya sudah terlalu dalam untuk disebut kebetulan. Kamu tidak pernah berusaha menarik perhatian. Justru di situlah aku mulai memperhatikan. Caramu bersikap, caramu menjaga diri, seolah ada batas yang kamu pahami tanpa perlu dijelaskan. Di tengah dunia yang sering berisik, kamu terasa tenang dengan caramu sendiri. Dan dari situ, aku belajar bahwa tidak semua hal baik perlu ditunjukkan—beberapa cukup dirasakan oleh mereka yang peka. Aku tidak pernah benar-benar dekat denganmu. Bahkan mungkin, aku hanya seseorang yang lewat di antara banyak orang yang pernah kamu temui. Tapi anehnya, aku sering menemukan ...