Postingan

JARAK YANG TIBA-TIBA NYATA

Aku tidak merencanakan pertemuan itu. Langkahku biasa saja, pikiranku kosong, sampai mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—kamu. Dunia tidak berhenti, tidak ada musik latar, hanya detik yang terasa lebih lambat dari biasanya. Lalu aku melihatnya: kamu berjalan di samping seorang lelaki, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Di situ, jarak yang selama ini samar mendadak menjadi nyata. Aku berdiri sejenak, cukup lama untuk menyadari bahwa perasaanku belum sepenuhnya pergi. Tapi juga cukup singkat untuk tidak mempermalukan diriku sendiri. Kamu tampak baik-baik saja, bahkan lebih tenang dari terakhir kali kita berbincang. Senyummu tidak berubah, hanya tujuannya yang kini berbeda. Dan entah kenapa, melihatmu utuh di hidup orang lain terasa seperti membaca kalimat penutup dari buku yang tak pernah sempat kuselesaikan. Aku tidak marah. Tidak juga ingin bertanya. Ada fase di mana hati sudah terlalu lelah untuk menuntut penjelasan. Aku hanya mengangguk kecil, pada diriku sendiri, seolah b...

KEPADA AKU

Kepada aku, yang dulu terlalu sibuk menulis tentang seseorang sampai lupa menuliskan tentang diri sendiri. Hari ini, biarlah aku menulis untukmu — bukan tentang siapa yang pergi, tapi tentang siapa yang harus tetap bertahan. Sudah terlalu lama aku menjadikan cinta sebagai alasan untuk menyiksa diri sendiri, seolah mencintai seseorang berarti menghapus segala yang aku butuhkan. Padahal, cinta yang baik seharusnya menumbuhkan, bukan mengikis pelan-pelan apa yang kita punya. Dulu, aku berpikir bahwa mencintai adalah tentang seberapa jauh aku bisa berkorban. Aku menunggu pesan yang tak datang, mencari tanda di tempat yang salah, dan menaruh harapan di dada yang tidak lagi punya ruang untukku. Semua itu kulakukan tanpa menyadari bahwa aku sedang perlahan kehilangan arah — bukan karena dia, tapi karena aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri atas perasaan yang tulus. Aku ingat betul masa-masa di mana malam menjadi saksi dari banyak keheningan. Aku menulis namanya di banyak catatan, ...

SEDARI DULU, SELAMA INI AKU MASIH MENCINTAIMU

Pernahkah kamu mengingat sesuatu yang amat sulit untuk ku akui? Bukan dengan keramaian seperti di awal perasaan itu tumbuh, tapi dengan diam yang perlahan belajar untuk tenang. Waktu sudah banyak berlalu, membawaku pada banyak hal baru, tapi setiap kali aku berhenti sejenak, ada ruang kecil dalam hati yang tetap mengingatmu. Aku tidak ingin membesar-besarkan rasa ini, hanya mengakui bahwa ia masih ada — sederhana, tapi jujur. Aku tak yakin ini masih cinta, atau hanya bentuk penghargaan terhadap seseorang yang pernah begitu berarti. Tapi setiap kali aku mencoba menghapus namamu dari pikiran, yang hilang justru sebagian dari diriku sendiri. Kamu telah menjadi bagian dari perjalanan, bukan sekadar kenangan. Seperti halaman lama yang tak lagi kubaca, tapi tidak tega kusingkirkan, karena di sanalah aku pernah benar-benar merasa hidup. Waktu terus berjalan, dan aku pun berubah. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan perasaan sebagai pusat segalanya. Aku mulai memahami bahwa kehilangan juga ...

TUHAN, SEPERTINYA VOUCHERKU MASIH TERSISA

Tuhan,  sepertinya ada sesuatu yang belum habis. Aku pikir masa untuk jatuh cinta sudah lewat, bahwa aku cukup menjadi penonton bagi orang lain yang berbahagia. Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dalam diri — bukan gejolak, melainkan keyakinan kecil bahwa aku masih bisa mencoba lagi. Mungkin Engkau sedang memberi isyarat halus bahwa tidak semua kisah berakhir di sunyi. Aku pernah menyerah pada urusan hati. Terlalu banyak janji yang tidak dijaga, terlalu sering percaya pada kata yang tak bermakna. Waktu berjalan, dan aku belajar diam. Aku membangun benteng yang membuatku terlihat kuat, padahal aku hanya tidak ingin terluka lagi. Tapi bahkan di antara kesepian yang panjang, aku tahu: hati manusia tidak diciptakan untuk berhenti berharap. Ia hanya perlu waktu untuk tenang sebelum berani membuka diri lagi. Kini aku tidak menuntut cinta yang besar atau kisah yang megah. Aku hanya ingin seseorang yang bisa diajak berbagi keheningan tanpa merasa canggung. Seseora...

SELAMAT PAGI, JOGJA

Selamat pagi, Jogja. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk mencari sesuatu yang pernah hilang — rasa yang dulu membuat jantungku berdetak tanpa alasan. Setiap sudut kotamu masih sama, aroma kopi dari warung kecil di dekat stasiun, langkah orang-orang yang bergegas menuju kampus, dan senyum asing yang kadang membuat hati tiba-tiba hangat. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kenangan. Ada yang bilang, Jogja selalu menyimpan cinta di tiap embusan angin paginya. Aku percaya itu, karena entah bagaimana, setiap kali aku menatap matahari terbit di Tugu, aku merasa sedang menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang. Cinta di kota ini seperti lagu yang lembut — tidak pernah benar-benar usai, hanya berganti lirik dari satu hati ke hati lain. Aku pernah jatuh cinta di sini, pada seseorang yang mengajarkan bahwa rindu bisa tumbuh bahkan tanpa janji. Dia seperti buku yang tidak sempat kuselesaikan, dan setiap kali aku membuka halaman barunya, yang ku...

MAR? NAMAMU TERDENGAR SAMAR

Ada nama yang masih bergetar di antara ingatan, meski waktu berusaha mengaburkannya. Mar, begitu samar terdengar di telinga, seakan hanya bisikan angin yang enggan benar-benar pergi. Aku tidak tahu mengapa setiap huruf darinya bisa membuatku terhenti. Barangkali memang ada nama yang ditakdirkan hidup lebih lama dalam dada, ketimbang sekadar diucapkan. Aku ingat kali pertama mendengarmu dipanggil, ada denyut yang sulit dijelaskan. Sesuatu di dalam diriku merespons seolah sudah mengenalmu jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Nama itu sederhana, tapi memiliki gema yang panjang. Seperti nada yang tidak selesai dipetik, dibiarkan menggantung, tapi tetap terdengar indah. Marrr shh rrkh, aku sering kali berusaha meyakinkan diri bahwa kamu hanyalah bagian kecil dari cerita yang lewat. Namun, setiap percakapan singkat dengamu selalu menggoreskan kesan yang panjang. Aku seperti sedang berjalan di jalan sempit yang diapit tembok tinggi—sulit mencari jalan keluar, namun enggan juga berbalik arah. D...

JATUH HATI DI WAKTU YANG LAMA APA MASIH PANTAS DISEBUT JATUH CINTA?

Ibarat hujan yang tak kunjung reda, rasa ini seakan bertahan di satu musim. Aku tidak pernah tahu mengapa, setiap kali mengingatmu, hatiku masih bergetar dengan cara yang sama. Mungkin jatuh cinta memang tidak membutuhkan alasan, cukup sebuah tatap yang membekas. Dan aku masih terjebak di dalamnya, meski waktu terus mengikis. Ada yang bilang, cinta butuh keberanian untuk diucapkan sebelum terlambat. Tapi bagaimana jika waktu justru berjalan begitu lama, dan aku masih saja terjebak pada rasa yang sama? Aku pernah jatuh hati padamu, sederhana, tanpa banyak pertemuan, tanpa janji. Hanya lewat perhatian kecil, cara bicaramu, dan kehangatan yang tak pernah kutemukan di tempat lain.  Waktu berlalu, jarak menjauhkan, percakapan terputus. Namun setiap kali namamu terlintas, dada ini tetap bergetar seperti pertama kali aku mengenalmu. Apakah ini cinta, atau hanya kenangan yang terlalu enggan pergi? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa ini masih hidup, meski tidak lagi punya tempat untuk bertum...