Postingan

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

Gambar
Aku tidak pernah membuat wishlist seseorang yang aku sayang pergi begitu saja. Barangkali dunia berjalan berdasar pada alam, makhluk hidup, lingkungan dan dengan pertanda-pertandanya. Siapa yang membuat keputusan untuk menghilangkan nyawa seseorang? siapa yang berhak? siapa yang berhak mengatur seseorang pergi dari dunia ini? Aku tidak menduga, semua keyakinan entah dalam ilmu religi, ilmu nenek moyang, semua berkaitan. Takdir memang unik dan sulit diprediksi. Aku punya seorang panutan dan kepala keluarga yang hebat. Simbol cinta, perjuangan, harapan, tanggung jawab dan hampir setiap kepala keluarga yang baik pasti melakukannya. Aku selalu percaya diri pada setiap langkah yang aku putuskan, karena aku percaya banyak orang-orang berdo'a dibelakangku yang membuat jalanku terus kuat dan langgeng. Ada banyak hal yang ingin aku persembahkan sebetulnya. Namun baru segelintir saja yang terasa.  Perihal Sedih barangkali ada orang lain lebih parah dariku, lebih nyesek dan down b...

TERLIHAT CANTIK, LEWAT BEGITU SAJA

Gambar
Dulu, bahkan sebelum aku benar-benar mengerti arti jatuh hati, namamu sudah diam-diam menetap di pikiranku. Kali pertama aku menyukaimu, saat itu aku melihatmu muncul di sosial media wali kelasku—atau mungkin hanya sekadar bayangan yang terlalu ingin kupercaya. Sejak itu aku seperti mencari sesuatu yang belum tentu ada, menelusuri satu per satu nama di daftar hadir, berharap ada jejak yang mengarah padamu. Dan ketika aku merasa menemukan namamu, semuanya terasa sederhana, tapi anehnya begitu indah—seolah sejak saat itu aku tahu, aku tidak akan benar-benar melupakanmu. Untuk waktu yang panjang, aku hanya menyimpan semuanya sendiri. Aku tumbuh, berpindah dari satu fase ke fase lain, dari seragam sekolah hingga akhirnya berdiri di dunia yang lebih nyata. Tapi di antara semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah: perasaanku padamu tetap di tempat yang sama. Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara mendekatimu. Setiap kali ada kesempatan, aku memilih diam, seol...

LAILATUL QADR, I CHOSE YOU

Aku tidak pernah merencanakan akan mendambakan kamu sejauh ini. Semua terasa biasa di awal—pertemuan singkat, percakapan seperlunya, lalu kamu pergi seperti hari-hari lain yang tidak meninggalkan bekas. Tapi entah sejak kapan, ada sesuatu yang tertinggal, dan justru itu yang tidak pernah benar-benar pergi. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini tumbuh, yang jelas, aku sadar ketika semuanya sudah terlalu dalam untuk disebut kebetulan. Kamu tidak pernah berusaha menarik perhatian. Justru di situlah aku mulai memperhatikan. Caramu bersikap, caramu menjaga diri, seolah ada batas yang kamu pahami tanpa perlu dijelaskan. Di tengah dunia yang sering berisik, kamu terasa tenang dengan caramu sendiri. Dan dari situ, aku belajar bahwa tidak semua hal baik perlu ditunjukkan—beberapa cukup dirasakan oleh mereka yang peka. Aku tidak pernah benar-benar dekat denganmu. Bahkan mungkin, aku hanya seseorang yang lewat di antara banyak orang yang pernah kamu temui. Tapi anehnya, aku sering menemukan ...

JANGAN MENJADI LUKA

Hidup ini terlalu singkat untuk saling melukai tanpa sadar. Maka sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu diingat: jangan menjadi luka bagi orang lain. Jangan menjadi alasan seseorang menutup hari dengan air mata yang bahkan tidak kamu ketahui sebabnya. Dunia sudah cukup keras, dan manusia sering kali hanya butuh satu tempat yang tidak menambah beban di pundaknya. Ada orang yang merasa paling benar, paling kuat, paling pantas didengar. Mereka berjalan dengan keyakinan yang berlebihan, seolah dunia harus menyesuaikan diri dengan kehendaknya. Padahal dalam kehidupan, humility sering kali lebih berharga daripada kemenangan kecil yang dipaksakan. Tidak semua hal perlu dimenangkan, karena kadang yang paling penting justru menjaga agar tidak ada hati yang patah di belakang kita. Jangan menjadi alasan seseorang merasa terbebani oleh kehadiranmu. Cinta sekalipun, jika tidak dijaga dengan bijak, bisa berubah menjadi beban yang diam-diam menyesakkan. Dalam hubungan, ada yang disebut...

INTERESTING TASTE? AH SUDAHLAH

Aku mendengar kabar itu dari kamu dengan nada santai, seperti sedang mengumumkan hal kecil yang tidak terlalu penting. Kamu bilang sekarang sudah punya significant other. Aku tentu saja tersenyum, karena manusia yang beradab tidak boleh terlihat terlalu terkejut. Padahal di dalam hati aku sedang menegosiasikan banyak perasaan sekaligus. Aku mencoba menerima bahwa posisi yang dulu aku harapkan, kini ditempati oleh seseorang yang kamu sebut dengan penuh bangga itu. Aku berusaha berpikir positif tentang your chosen one. Kamu bilang dia baik, perhatian, dan punya selera humor yang lucu. Aku mengangguk saja, karena imajinasi manusia memang luas sekali. Tapi ketika aku melihat fotonya, aku mulai memahami satu teori lama. Rupanya benar, love is blind, bahkan kadang seperti lampu yang sengaja dimatikan dari awal. Tapi tenang saja, aku bukan orang yang mudah menghina. Aku sangat menjaga etika ketika membicarakan your special person. Bahkan ketika aku melihat wajahnya yang penuh karakter itu, ak...

12 + 12 = YOU

Ada hal-hal yang kadang lebih mudah dipahami lewat angka daripada lewat perasaan. Dalam matematika, dua belas ditambah dua belas selalu berakhir pada angka yang sama. Tidak pernah berubah, tidak pernah ragu. Rumusnya sederhana, jawabannya pasti. Tapi anehnya, setiap kali aku melihat hasil itu, pikiranku justru tidak berhenti pada angka. Bertahun-tahun aku mencoba memahami banyak hal dengan cara yang rasional. Aku percaya bahwa dunia berjalan dengan hukum yang jelas—seperti sains yang menjelaskan sebab dan akibat, atau matematika yang menenangkan karena segala sesuatu bisa dihitung. Namun ada satu bagian dari hidup yang tidak pernah berhasil kujelaskan dengan logika yang sama. Setiap kali aku mencoba menyederhanakannya, hasilnya selalu kembali pada satu hal yang sama: kamu. Awalnya mungkin hanya kebetulan kecil. Sebuah angka, sebuah tanggal, lalu ingatan yang muncul tanpa diminta. Lama-lama aku menyadari bahwa beberapa hal memang tidak datang untuk dijelaskan, melainkan untuk dirasakan....

NURANI SEPI DI SISA MALAM, TUHAN TERABAIKAN

Aku melihat banyak yang berdiri di tepi malam, menunggu namanya disebut tanpa pernah benar-benar ditanya apakah hatinya siap. Keinginan-keinginan liar datang seperti tamu yang selalu dimuliakan, sementara harga diri dibiarkan menunggu di luar pintu. Semua terasa seperti pilihan yang wajar, seolah tidak ada yang benar-benar hilang selama senyum masih bisa dipasang. Padahal setiap panggilan sering kali hanya jalan sunyi menuju kerugian yang tak langsung terasa. Kenikmatan sesaat pandai menyamar, seakan ia hadiah, padahal sering kali hanya jebakan yang halus. Aku pernah melihat yang seperti itu, berdiri canggung di pinggir malam, seolah ingin pulang tapi tak tahu harus ke mana. Wajahnya masih terlalu muda untuk terlihat setegar itu, tapi matanya menyimpan lelah yang tak biasa. Ia bicara seperlunya saja, seakan setiap kata harus dijaga agar tak membuka rahasia. Dari caranya diam, terasa ada hidup yang dijalani bukan karena ingin, melainkan karena terpaksa. Sejak saat itu aku tahu, tidak se...