AIR MATA KERUH DALAM BEJANA II
Ada tempat-tempat yang sejak awal dibangun untuk menjaga ilmu tetap bermartabat. Pesantren dengan ketenangan dinding-dindingnya, kampus dengan ruang diskusinya yang luas. Keduanya seharusnya menjadi tempat manusia tumbuh—bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab. Namun akhir-akhir ini, ada sesuatu yang terasa bergeser: ilmu masih diajarkan, tapi kehormatan perlahan kehilangan tempatnya. Di lingkungan akademik, relasi sering dibungkus dengan istilah profesionalitas. Percakapan menjadi cair, batas dianggap fleksibel, dan kedekatan kadang tumbuh tanpa benar-benar dipertanyakan. Kampus memberi ruang bicara yang luas; semua orang bebas menyampaikan pandangan, membantah, bahkan melawan. Tapi ironisnya, kebebasan itu kadang dimanfaatkan oleh mereka yang paham bagaimana memainkan kuasa secara halus. Berbeda dengan pesantren. Di sana, kepatuhan tumbuh bersama tradisi penghormatan. Santri dibiasakan tunduk, percaya, dan menjaga takzim. Nilai itu mulia, tapi dalam situasi tertentu, ia bisa berubah ...