NAKAL SILAKAN, BAJINGAN JANGAN
Tuhan menciptakan manusia dengan dua hal yang selalu berjalan beriringan: kehormatan dan pilihan. Kehormatan itu dijaga dalam diam, sementara pilihan sering kali diuji dalam keramaian. Di antara keduanya, manusia kerap lupa—bahwa yang hilang tidak selalu kembali, dan yang retak tidak selalu bisa dipulihkan seperti semula. Di banyak sudut kehidupan, aku melihat cerita yang sama berulang. Anak-anak muda berjalan tanpa arah yang jelas, seolah dunia tidak punya batas. Malam dijadikan tempat membuang kesadaran, dan siang hanya sisa dari lelah yang tidak pernah diakui. Mereka menyebutnya hidup, padahal sering kali itu hanya cara halus untuk menghindari pulang. Masyarakat punya caranya sendiri dalam menyimpan cerita. Tidak semua diucapkan, tapi hampir semua dipahami. Ada bisik-bisik yang beredar tanpa nama, ada pandangan yang cukup menjelaskan tanpa kata. Noda-noda yang seharusnya tersembunyi tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berpindah dari ingatan ke ingatan, menunggu wakt...