AIR MATA KERUH DALAM BEJANA II

Ada tempat-tempat yang sejak awal dibangun untuk menjaga ilmu tetap bermartabat. Pesantren dengan ketenangan dinding-dindingnya, kampus dengan ruang diskusinya yang luas. Keduanya seharusnya menjadi tempat manusia tumbuh—bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab. Namun akhir-akhir ini, ada sesuatu yang terasa bergeser: ilmu masih diajarkan, tapi kehormatan perlahan kehilangan tempatnya.

Di lingkungan akademik, relasi sering dibungkus dengan istilah profesionalitas. Percakapan menjadi cair, batas dianggap fleksibel, dan kedekatan kadang tumbuh tanpa benar-benar dipertanyakan. Kampus memberi ruang bicara yang luas; semua orang bebas menyampaikan pandangan, membantah, bahkan melawan. Tapi ironisnya, kebebasan itu kadang dimanfaatkan oleh mereka yang paham bagaimana memainkan kuasa secara halus.

Berbeda dengan pesantren. Di sana, kepatuhan tumbuh bersama tradisi penghormatan. Santri dibiasakan tunduk, percaya, dan menjaga takzim. Nilai itu mulia, tapi dalam situasi tertentu, ia bisa berubah menjadi ruang yang terlalu sunyi untuk menolak. Sebagian orang berbicara atas nama bimbingan, padahal yang bekerja sebenarnya adalah hasrat yang disamarkan oleh otoritas.

Yang paling mengkhawatirkan bukan tindakan yang terlihat jelas, melainkan pola-pola kecil yang perlahan dinormalisasi. Candaan yang melampaui batas, kedekatan yang dibungkus perhatian, atau kalimat-kalimat ambigu yang sengaja dibuat sulit dipersoalkan. Semuanya terasa ringan di awal, sampai akhirnya seseorang sadar bahwa dirinya sedang ditempatkan dalam relasi yang tidak sehat.

Ilmu seharusnya melahirkan kejernihan berpikir, bukan ketakutan untuk bersuara. Sebab ketika seseorang menggunakan kedudukan intelektual atau spiritual untuk mengaburkan batas etik, yang rusak bukan hanya individu—tetapi juga kepercayaan terhadap ruang pendidikan itu sendiri.

Dan sering kali, korban memilih diam. Bukan karena tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi karena sadar betapa berat konsekuensi sosialnya. Di pesantren, diam dianggap bentuk hormat. Di kampus, diam kadang dipilih agar tidak menjadi bahan percakapan publik yang melelahkan. Akhirnya, banyak hal selesai tanpa benar-benar diselesaikan.

Padahal sehebat apa pun seseorang berbicara tentang moral, adab, atau intelektualitas, semuanya runtuh ketika ia gagal menjaga kehormatan orang yang seharusnya ia lindungi.

> Sebab ilmu tanpa etik hanya melahirkan manusia yang pandai berbicara, tetapi gagal menjaga dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

SAID I LOVE YOU FOR 49 DAYS