MAR? NAMAMU TERDENGAR SAMAR
Ada nama yang masih bergetar di antara ingatan, meski waktu berusaha mengaburkannya. Mar, begitu samar terdengar di telinga, seakan hanya bisikan angin yang enggan benar-benar pergi. Aku tidak tahu mengapa setiap huruf darinya bisa membuatku terhenti. Barangkali memang ada nama yang ditakdirkan hidup lebih lama dalam dada, ketimbang sekadar diucapkan.
Aku ingat kali pertama mendengarmu dipanggil, ada denyut yang sulit dijelaskan. Sesuatu di dalam diriku merespons seolah sudah mengenalmu jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Nama itu sederhana, tapi memiliki gema yang panjang. Seperti nada yang tidak selesai dipetik, dibiarkan menggantung, tapi tetap terdengar indah.
Marrr shh rrkh, aku sering kali berusaha meyakinkan diri bahwa kamu hanyalah bagian kecil dari cerita yang lewat. Namun, setiap percakapan singkat dengamu selalu menggoreskan kesan yang panjang. Aku seperti sedang berjalan di jalan sempit yang diapit tembok tinggi—sulit mencari jalan keluar, namun enggan juga berbalik arah. Dan di situlah aku terjebak: antara ingin melupakan, atau justru membiarkanmu tinggal.
Aku masih mengingat percakapan-percakapan sederhana itu, yang sering kali lebih berarti daripada rentetan kata manis dari siapa pun. Ada ketulusan di setiap jawabmu, ada kelembutan yang bahkan membuat dunia terasa lebih ringan. Nama samar itu tiba-tiba menjadi pusat semestaku. Dan entah bagaimana, aku betah berada dalam orbitnya.
Kini, setiap kali aku menutup mata, aku mendengar namamu lagi. Samar, tapi cukup jelas untuk membuatku kembali jatuh ke dalam rindu. Aku tidak pernah tahu, apakah kamu sadar seberapa kuat gema itu menahan langkahku. Yang kutahu, namamu telah menjadi bagian dari doa yang paling sering kugumamkan.
Komentar
Posting Komentar