Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

AIR MATA KERUH DALAM BEJANA II

Ada tempat-tempat yang sejak awal dibangun untuk menjaga ilmu tetap bermartabat. Pesantren dengan ketenangan dinding-dindingnya, kampus dengan ruang diskusinya yang luas. Keduanya seharusnya menjadi tempat manusia tumbuh—bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab. Namun akhir-akhir ini, ada sesuatu yang terasa bergeser: ilmu masih diajarkan, tapi kehormatan perlahan kehilangan tempatnya. Di lingkungan akademik, relasi sering dibungkus dengan istilah profesionalitas. Percakapan menjadi cair, batas dianggap fleksibel, dan kedekatan kadang tumbuh tanpa benar-benar dipertanyakan. Kampus memberi ruang bicara yang luas; semua orang bebas menyampaikan pandangan, membantah, bahkan melawan. Tapi ironisnya, kebebasan itu kadang dimanfaatkan oleh mereka yang paham bagaimana memainkan kuasa secara halus. Berbeda dengan pesantren. Di sana, kepatuhan tumbuh bersama tradisi penghormatan. Santri dibiasakan tunduk, percaya, dan menjaga takzim. Nilai itu mulia, tapi dalam situasi tertentu, ia bisa berubah ...

AIR MATA KERUH DALAM BEJANA I

Kerusakan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir pelan, memakai bahasa paling sopan, duduk di ruang-ruang yang dianggap suci, lalu tumbuh tanpa banyak dipertanyakan. Ada yang berbicara tentang ilmu di siang hari, lalu kehilangan batas ketika malam mulai sepi. Ada yang dihormati karena gelar dan jubahnya, tapi diam-diam gagal menjaga pikirannya sendiri. Di kampus, sebagian dosen terlalu paham bagaimana memainkan kedekatan. Semua dimulai dari hal-hal yang tampak biasa: candaan yang sedikit melenceng, obrolan larut malam dengan alasan akademik, perhatian yang dibungkus “bimbingan.” Kata-kata dipilih hati-hati agar terdengar normal, padahal arahnya perlahan menggeser batas. Mereka tahu bagaimana membuat seseorang ragu untuk merasa tidak nyaman. Di pesantren, bentuknya lebih sunyi. Takzim membuat banyak santri memilih diam bahkan ketika hatinya menolak. Ada yang memanfaatkan forum mengaji, semaan kitab, atau ruang konsultasi agama untuk membangun relasi yang tidak lagi seha...