LAILATUL QADR, I CHOSE YOU
Aku tidak pernah merencanakan akan mendambakan kamu sejauh ini. Semua terasa biasa di awal—pertemuan singkat, percakapan seperlunya, lalu kamu pergi seperti hari-hari lain yang tidak meninggalkan bekas. Tapi entah sejak kapan, ada sesuatu yang tertinggal, dan justru itu yang tidak pernah benar-benar pergi. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini tumbuh, yang jelas, aku sadar ketika semuanya sudah terlalu dalam untuk disebut kebetulan.
Kamu tidak pernah berusaha menarik perhatian. Justru di situlah aku mulai memperhatikan. Caramu bersikap, caramu menjaga diri, seolah ada batas yang kamu pahami tanpa perlu dijelaskan. Di tengah dunia yang sering berisik, kamu terasa tenang dengan caramu sendiri. Dan dari situ, aku belajar bahwa tidak semua hal baik perlu ditunjukkan—beberapa cukup dirasakan oleh mereka yang peka.
Aku tidak pernah benar-benar dekat denganmu. Bahkan mungkin, aku hanya seseorang yang lewat di antara banyak orang yang pernah kamu temui. Tapi anehnya, aku sering menemukan diriku memikirkan kamu dalam hal-hal kecil. Dalam diam, dalam jeda, dalam waktu yang tidak aku rencanakan. Kamu seperti hadir tanpa suara, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak dari semuanya.
Ada banyak kemungkinan yang sempat kubayangkan. Tentang bagaimana jika aku lebih berani, bagaimana jika aku lebih cepat menyadari. Tapi semakin lama aku mengerti, bahwa tidak semua perasaan harus segera disampaikan. Ada yang perlu dijaga dulu, diperbaiki dulu, sebelum akhirnya layak untuk dipertemukan.
Malam itu terasa berbeda. Ketika banyak orang sibuk dengan dunianya masing-masing, aku justru sibuk dengan pikiranku sendiri—tentang kamu, tentang diriku, dan tentang apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku tidak ingin sekadar mendambakan kamu tanpa arah. Aku ingin, jika suatu hari aku datang, aku datang dengan cara yang benar.
Aku mulai mengerti bahwa mencintai kamu tidak cukup hanya dengan rasa. Aku harus menyiapkan diri, memperbaiki langkah, dan memastikan bahwa aku tidak membawa sesuatu yang bisa merusak ketenangan yang kamu punya. Aku tidak ingin menjadi alasan kamu berubah menjadi sesuatu yang bukan dirimu.
Aku tidak tahu bagaimana akhirnya. Apakah aku akan tetap menjadi seseorang yang hanya mengagumi dari jauh, atau suatu hari nanti aku benar-benar berdiri di hadapanmu. Tapi satu hal yang aku tahu, perasaan ini tidak ingin kujalani dengan cara yang sembarangan.
Dan jika memang ada satu malam yang lebih baik dari seribu malam, aku ingin menjadikan perasaan ini bagian dari doa, bukan sekadar keinginan.
> Karena di antara banyak hal yang pernah kupilih dalam hidup,
aku memilih memperbaiki diriku—agar suatu saat nanti, aku pantas untuk kamu.
Komentar
Posting Komentar