SEDARI DULU, SELAMA INI AKU MASIH MENCINTAIMU
Pernahkah kamu mengingat sesuatu yang amat sulit untuk ku akui? Bukan dengan keramaian seperti di awal perasaan itu tumbuh, tapi dengan diam yang perlahan belajar untuk tenang. Waktu sudah banyak berlalu, membawaku pada banyak hal baru, tapi setiap kali aku berhenti sejenak, ada ruang kecil dalam hati yang tetap mengingatmu. Aku tidak ingin membesar-besarkan rasa ini, hanya mengakui bahwa ia masih ada — sederhana, tapi jujur.
Aku tak yakin ini masih cinta, atau hanya bentuk penghargaan terhadap seseorang yang pernah begitu berarti. Tapi setiap kali aku mencoba menghapus namamu dari pikiran, yang hilang justru sebagian dari diriku sendiri. Kamu telah menjadi bagian dari perjalanan, bukan sekadar kenangan. Seperti halaman lama yang tak lagi kubaca, tapi tidak tega kusingkirkan, karena di sanalah aku pernah benar-benar merasa hidup.
Waktu terus berjalan, dan aku pun berubah. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan perasaan sebagai pusat segalanya. Aku mulai memahami bahwa kehilangan juga bagian dari cara hidup menunjukkan arah. Namun di antara semua hal yang sudah berlalu, ada kalanya aku masih menoleh ke masa itu, bukan karena ingin kembali, tapi karena di sanalah aku pernah belajar mencintai tanpa syarat.
Aku pernah marah pada waktu, karena tidak segera menolongku melupakan. Tapi lama-kelamaan, aku sadar, melupakan bukan satu-satunya jalan untuk sembuh. Ada kalanya, yang kita butuhkan hanyalah menerima bahwa beberapa hal memang meninggalkan jejak yang tidak perlu dihapus. Aku berhenti berjuang untuk melupakanmu; aku belajar untuk tidak menolak kenyataan bahwa rasa itu memang pernah tumbuh di sana.
Ada kalanya aku ingin tahu tentang kamu — apakah hidup memperlakukanmu dengan lembut, apakah kamu sudah menemukan tempat yang kamu cari. Bukan karena aku ingin ikut di dalamnya, tapi karena aku tulus berharap kamu baik-baik saja. Aku tidak lagi ingin menjadi alasan dari apa pun, cukup menjadi seseorang yang diam-diam masih berharap kamu bahagia.
Mungkin memang begini cara Tuhan menata jarak — agar yang pernah ada tidak berakhir dengan luka. Karena bila dulu kita dipersatukan lebih lama, mungkin kita justru saling mengikis dalam ketidaksiapan. Sekarang aku bisa melihat ke belakang tanpa getir, karena aku tahu, pertemuan itu bukan kesalahan, melainkan pengingat bahwa tidak semua yang indah harus bertahan selamanya.
Aku sering mendengar orang berkata bahwa ada satu kisah yang sulit benar-benar hilang dari hati. Mungkin karena pada masa itu, seseorang mencintai dengan versi dirinya yang paling murni, sebelum banyak belajar, sebelum terlalu berhitung. Dan mungkin itulah yang membuat kenanganmu tetap terasa dekat — bukan karena kamu yang terlalu istimewa, tapi karena aku yang benar-benar tulus kala itu.
Kini aku sudah bisa menulis tentangmu tanpa ada sesak di dada. Aku tidak ingin menghapusmu dari cerita, karena aku tidak menyesal pernah mencintaimu. Kamu pernah datang dengan tenang, lalu pergi dengan cara yang tidak menyakitkan, dan entah bagaimana, itu sudah cukup untuk disebut takdir yang baik. Aku menyimpanmu di tempat yang damai — tidak untuk dikenang setiap hari, tapi cukup untuk diingat sebagai bagian yang pernah membentukku.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita akan dipertemukan kembali, dengan versi diri yang lebih tenang dan siap. Tapi jika pun tidak, aku sudah cukup berterima kasih karena pernah mengenalmu, dengan segala ketulusan yang ada di masa itu. Aku sudah tidak menunggu, hanya menjaga ruang kecil dalam hati yang tetap hangat setiap kali mengingatmu.
> Karena beberapa rasa tidak diciptakan untuk kembali — melainkan untuk dikenang, agar kita belajar mencintai tanpa harus memiliki.
Komentar
Posting Komentar