AIR MATA KERUH DALAM BEJANA I

Kerusakan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir pelan, memakai bahasa paling sopan, duduk di ruang-ruang yang dianggap suci, lalu tumbuh tanpa banyak dipertanyakan. Ada yang berbicara tentang ilmu di siang hari, lalu kehilangan batas ketika malam mulai sepi. Ada yang dihormati karena gelar dan jubahnya, tapi diam-diam gagal menjaga pikirannya sendiri.

Di kampus, sebagian dosen terlalu paham bagaimana memainkan kedekatan. Semua dimulai dari hal-hal yang tampak biasa: candaan yang sedikit melenceng, obrolan larut malam dengan alasan akademik, perhatian yang dibungkus “bimbingan.” Kata-kata dipilih hati-hati agar terdengar normal, padahal arahnya perlahan menggeser batas. Mereka tahu bagaimana membuat seseorang ragu untuk merasa tidak nyaman.

Di pesantren, bentuknya lebih sunyi. Takzim membuat banyak santri memilih diam bahkan ketika hatinya menolak. Ada yang memanfaatkan forum mengaji, semaan kitab, atau ruang konsultasi agama untuk membangun relasi yang tidak lagi sehat. Kalimat-kalimat yang seharusnya menjadi nasihat berubah menjadi isyarat ambigu. Dan karena semua dibungkus dengan otoritas spiritual, banyak yang takut menyebutnya keliru.

Yang paling berbahaya bukan hanya tindakan, tetapi cara berpikir yang sudah rusak sejak awal. Ketika seks tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang sakral dan bertanggung jawab, melainkan sekadar bahan candaan, objek imajinasi, atau permainan kuasa. Akibatnya, ruang pendidikan kehilangan kejernihan etiknya. Orang-orang mulai terbiasa dengan ucapan yang tidak pantas, pesan yang melewati batas, hingga pendekatan yang sengaja dibuat samar agar sulit dipersoalkan.

Ironisnya, pelaku sering terlihat paling tenang di depan publik. Mereka bicara tentang moral, agama, atau intelektualitas dengan sangat meyakinkan. Sementara korban justru sibuk meragukan dirinya sendiri: “mungkin aku terlalu sensitif,” “mungkin itu hanya bercanda,” atau “mungkin aku salah paham.” Di situlah manipulasi bekerja paling halus—membuat orang kehilangan keberanian untuk mempercayai rasa tidak nyamannya sendiri.

Masyarakat pun sering terlambat memahami bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk sentuhan. Ada yang lahir dari percakapan yang dipaksakan, dari pesan-pesan yang membuat seseorang takut membuka layar ponselnya, dari candaan yang terus mengikis rasa aman sedikit demi sedikit. Dan ketika itu dilakukan oleh orang yang punya kuasa intelektual atau spiritual, luka yang ditinggalkan menjadi jauh lebih rumit.

Sebab pada akhirnya, ruang belajar bukan hanya soal ilmu apa yang diajarkan, tetapi juga tentang seberapa aman manusia di dalamnya diperlakukan.

> Karena seseorang bisa saja sangat alim dalam ucapan,
tetapi tetap gagal menjaga kehormatan pikirannya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

SAID I LOVE YOU FOR 49 DAYS