JOGJA SEMINGGU SEKALI

Ada orang yang mengukur cinta dengan kata-kata, ada yang dengan kehadiran. Tapi aku mengukurnya dengan perjalanan—sebuah kebiasaan yang berulang, seperti langkah yang selalu tahu ke mana harus pergi, meski tidak pernah yakin apa yang akan ditemukan di sana. Dalam perjalanan itu, sesekali aku duduk di kursi kereta, melihat dunia bergerak dari balik jendela, dan menyadari bahwa tidak semua yang kita tuju benar-benar menunggu.


Setiap minggu, aku belajar mengukur rindu dengan jarak. Bukan lagi soal hari, tapi tentang bagaimana aku menata waktu hanya untuk sampai padamu. Perjalanan itu selalu terasa serupa—orang-orang datang dan pergi, jalanan yang berulang, dan aku yang diam-diam membawa satu tujuan yang sama.

Aku hafal ritmenya. Tiket yang dipesan jauh hari, tas kecil yang isinya tidak pernah banyak, dan harapan yang selalu kubawa lebih berat dari barang bawaan. Di tengah perjalanan, aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah semua ini sepadan? Tapi seperti langkah yang sudah terlanjur jauh, aku tetap berjalan—lagi dan lagi.

Sesampainya di Jogja, semuanya terasa lebih hidup. Jalanan, lampu-lampu malam, bahkan udara yang sedikit berbeda. Aku berjalan menuju tempat yang sudah kita sepakati, kadang terlalu cepat, seolah waktu bisa menunggu kalau aku tiba lebih awal. Dan di sana, aku melihatmu—duduk biasa saja, tanpa rindu yang sama seperti yang kubawa sepanjang perjalanan.

Kita makan di tempat yang sederhana. Aku memperhatikan hal-hal kecil: caramu memegang gelas, caramu menjawab dengan singkat, caramu lebih sering melihat layar daripada menatapku. Aku mencoba bercerita, mencoba membuat semuanya terasa hangat, tapi percakapan kita sering berakhir seperti pesan yang tidak dibalas sepenuhnya—datang, lalu hilang tanpa benar-benar tinggal.

Barangkali aku tidak pernah memposting semua ini di sosial media. Bukan karena tidak bangga, tapi karena bagiku cinta yang utuh tidak perlu dipamerkan. Seperti perjalanan ini—tidak semua orang tahu berapa jauh aku melangkah, tapi aku tetap menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Aku percaya, yang dijaga dengan diam akan lebih kuat daripada yang diumumkan dengan suara keras.

Aku tidak pernah menghitung berapa yang sudah kukorbankan. Tiket, makan, waktu, tenaga—semuanya terasa kecil dibandingkan keinginan untuk tetap bertahan. Tapi ada satu hal yang perlahan terasa berat: aku seperti berjalan berdua dalam cerita, tapi merasakan semuanya sendirian.

Kini, uang yang dulu setiap minggu habis untuk perjalanan itu, perlahan mulai kutabung. Bukan lagi untuk mengulang langkah yang sama, tapi sebagai pengingat—bahwa dulu aku pernah begitu jauh melangkah untuk sesuatu yang ternyata tidak berjalan ke arah yang sama. Bukan untuk disesali, tapi untuk diingat, bahwa waktu yang pernah kuberikan tidak akan kembali.

Malam di Jogja selalu cepat berlalu. Kita berpisah tanpa banyak kata, seperti dua orang yang sudah terlalu biasa untuk saling merindukan. Aku pulang dengan langkah yang lebih pelan, membawa kesadaran yang akhirnya tidak bisa lagi kuhindari.

Dan di antara perjalanan yang terus berulang itu, aku akhirnya mengerti—tidak semua yang kita perjuangkan akan bertahan. Ada yang hanya singgah, lalu pergi tanpa pernah benar-benar tinggal.

Jogja seminggu sekali, dan aku masih di sini—
pernah berusaha sekuat itu, untuk sesuatu yang ternyata tidak pernah benar-benar memilihku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

NAKAL SILAKAN, BAJINGAN JANGAN

NURANI SEPI DI SISA MALAM, TUHAN TERABAIKAN