NURANI SEPI DI SISA MALAM, TUHAN TERABAIKAN
Aku melihat banyak yang berdiri di tepi malam, menunggu namanya disebut tanpa pernah benar-benar ditanya apakah hatinya siap. Keinginan-keinginan liar datang seperti tamu yang selalu dimuliakan, sementara harga diri dibiarkan menunggu di luar pintu. Semua terasa seperti pilihan yang wajar, seolah tidak ada yang benar-benar hilang selama senyum masih bisa dipasang. Padahal setiap panggilan sering kali hanya jalan sunyi menuju kerugian yang tak langsung terasa. Kenikmatan sesaat pandai menyamar, seakan ia hadiah, padahal sering kali hanya jebakan yang halus.
Aku pernah melihat yang seperti itu, berdiri canggung di pinggir malam, seolah ingin pulang tapi tak tahu harus ke mana. Wajahnya masih terlalu muda untuk terlihat setegar itu, tapi matanya menyimpan lelah yang tak biasa. Ia bicara seperlunya saja, seakan setiap kata harus dijaga agar tak membuka rahasia. Dari caranya diam, terasa ada hidup yang dijalani bukan karena ingin, melainkan karena terpaksa. Sejak saat itu aku tahu, tidak semua yang berjalan di jalan gelap benar-benar memilih kegelapan.
Banyak yang merasa diinginkan, padahal yang datang hanya mencari puas lalu pergi tanpa jejak. Mereka seolah menghargai, tapi sebenarnya hanya menawar tanpa pernah benar-benar peduli. Di situlah kerugian mulai menumpuk, bukan hanya pada waktu dan tenaga, tapi pada sesuatu yang jauh lebih dalam. Sedikit demi sedikit, yang hilang adalah rasa hormat pada diri sendiri. Dan sering kali kerugian terbesar adalah saat semua itu mulai terasa biasa.
Aku juga pernah melihat yang pulang dengan mata sembab, dimarahi orang tuanya sendiri seolah ia adalah sumber dari semua kesialan. Kata-kata kasar dilempar tanpa ampun, lebih tajam dari luka yang sudah ada. Tidak ada pelukan, tidak ada tempat bercerita, hanya amarah yang membuatnya kembali pergi. Seakan rumah bukan tempat pulang, melainkan tempat yang harus dihindari. Dan dari bentakan itulah kadang seseorang belajar bahwa dunia luar terasa sama kerasnya.
Ada saatnya hati berbisik pelan bahwa yang dijalani bukan sekadar jalan hidup, melainkan jalan yang mengikis pelan-pelan. Dosa tidak selalu terasa berat di awal, justru sering datang dengan wajah yang ramah. Hari demi hari berlalu sampai yang salah terasa wajar dan yang wajar terasa asing. Tidak ada yang langsung runtuh dalam satu malam, semuanya jatuh sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya diri sendiri tak lagi sadar apa yang sebenarnya telah hilang. Dan di setiap langkah yang terasa sepi itu, Tuhan sebenarnya tidak pernah benar-benar jauh, hanya sering dilupakan.
Ada pula kisah yang lebih pahit dari sekadar pilihan yang salah. Seseorang pernah bercerita bahwa ia tidak benar-benar memulai semua ini sendirian. Ia didorong oleh orang yang seharusnya melindungi, bahkan dijual oleh tangan yang seharusnya menjaga. Sejak saat itu hidupnya seperti bukan miliknya lagi. Kepercayaan hancur bukan oleh orang asing, tapi oleh keluarga sendiri. Luka seperti itu tidak pernah benar-benar sembuh hanya dengan waktu.
Kerugian itu tidak selalu terlihat dari luar. Sebagian kehilangan rasa percaya karena terlalu sering diperlakukan seperti tempat singgah. Sebagian mulai merasa asing dengan dirinya sendiri, seolah hidup berjalan tanpa arah yang jelas. Ada yang terjebak dalam lingkaran kebutuhan yang makin menjerat hari demi hari. Dan saat ingin berhenti, sering kali langkah terasa jauh lebih berat daripada saat memulai. Padahal waktu terus berjalan, mendekatkan setiap manusia pada satu akhir yang pasti.
Aku pernah juga melihat yang siangnya berjalan membawa buku, duduk di bangku seperti tidak terjadi apa-apa. Senyumnya tampak biasa, obrolannya terdengar ringan seperti yang lain. Tidak ada yang tahu bahwa malamnya ia menjadi orang yang berbeda demi bertahan hidup. Ia mengejar mimpi di siang hari, dan mengorbankan dirinya di malam hari. Di antara tugas dan harapan, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diceritakan.
Banyak kejadian nyata menunjukkan bahwa jalan ini jarang memberi keuntungan yang utuh. Uang yang datang sering habis lebih cepat daripada rasa lelah yang tertinggal. Waktu berlalu tanpa bisa dibeli kembali dengan bayaran sebanyak apa pun. Sebagian harus menanggung penyakit yang datang tanpa banyak tanda di awal. Sebagian lagi hidup dalam bayang-bayang takut setiap kali malam kembali tiba.
Dan ada pula yang menjalani semuanya diam-diam, tanpa seorang pun tahu. Mereka tetap terlihat seperti biasa, bercanda, bekerja, dan menyapa seperti tidak ada yang ganjil. Tidak ada tanda yang jelas, hanya lelah yang kadang terlihat sekilas lalu hilang. Dunia melihat mereka baik-baik saja, karena memang itu yang ingin ditunjukkan. Padahal di balik diam itu, ada hidup yang terus berjalan tanpa pernah benar-benar diceritakan.
Kadang aku berpikir tentang bagaimana semua ini akan berakhir. Tidak ada malam yang abadi, dan tidak ada hidup yang berjalan selamanya. Akan ada satu waktu ketika nama tidak lagi dipanggil oleh manusia, melainkan oleh kematian yang tak pernah bisa ditunda. Pada saat itu, tidak ada lagi tawar-menawar, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang. Yang tersisa hanya diri sendiri dan segala yang pernah dilakukan di dunia.
Kalau masih ada gelisah saat malam mulai sepi, mungkin itu bukan sekadar pikiran yang lewat. Bisa jadi itu sisa nurani yang belum sepenuhnya padam, panggilan halus agar kembali sebelum terlambat. Tuhan tidak pernah menutup jalan pulang, meski manusia sering menundanya. Jalan pulang memang sunyi, tapi selalu lebih terhormat daripada terus berdiri menunggu untuk dipanggil. Karena pada akhirnya, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada sadar bahwa diri sendiri pernah dihargai begitu murah, tepat ketika waktu sudah habis dan kesempatan tak lagi tersisa.
Komentar
Posting Komentar