KEPADA AKU
Kepada aku, yang dulu terlalu sibuk menulis tentang seseorang sampai lupa menuliskan tentang diri sendiri. Hari ini, biarlah aku menulis untukmu — bukan tentang siapa yang pergi, tapi tentang siapa yang harus tetap bertahan. Sudah terlalu lama aku menjadikan cinta sebagai alasan untuk menyiksa diri sendiri, seolah mencintai seseorang berarti menghapus segala yang aku butuhkan. Padahal, cinta yang baik seharusnya menumbuhkan, bukan mengikis pelan-pelan apa yang kita punya.
Dulu, aku berpikir bahwa mencintai adalah tentang seberapa jauh aku bisa berkorban. Aku menunggu pesan yang tak datang, mencari tanda di tempat yang salah, dan menaruh harapan di dada yang tidak lagi punya ruang untukku. Semua itu kulakukan tanpa menyadari bahwa aku sedang perlahan kehilangan arah — bukan karena dia, tapi karena aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri atas perasaan yang tulus.
Aku ingat betul masa-masa di mana malam menjadi saksi dari banyak keheningan. Aku menulis namanya di banyak catatan, seolah dengan menulis aku bisa menahannya untuk tetap di sini. Tapi ternyata tidak. Kata-kata pun akhirnya ikut lelah, dan yang tersisa hanyalah aku — dengan hati yang belum sembuh, dan pikiran yang mulai jenuh menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Kini aku ingin belajar mencintai dengan cara yang lebih bijak. Bukan lagi mencintai seseorang sampai lupa bagaimana menjaga diri sendiri, tapi mencintai diriku yang pernah berani jatuh dan tetap memilih untuk bangkit. Aku ingin menulis bukan karena rindu pada seseorang, melainkan karena aku ingin mengenal kembali diriku yang sempat hilang di tengah segala pencarian.
Aku sering tertawa sendiri memikirkan betapa anehnya dulu: bukannya menambah daftar bacaan, aku malah menambah struk pembayaran dari kedai kopi yang berbeda-beda. Aku berpindah tempat duduk seolah sedang berpindah nasib, berharap suasana baru bisa memperbaiki sesuatu di dalam diri. Tapi ternyata bukan suasananya yang perlu diganti — melainkan caraku melihat dunia, dan caraku memperlakukan hati sendiri.
Ada bagian dari diriku yang kini ingin tenang. Tidak lagi ingin berlari mengejar apa pun, hanya ingin duduk diam dan merasa cukup. Cukup dengan apa yang aku punya, cukup dengan diriku sendiri. Aku ingin belajar menikmati kesendirian bukan sebagai hukuman, tapi sebagai ruang untuk tumbuh. Karena mungkin, di antara kehilangan dan kesepian, Tuhan sedang menyiapkan bentuk cinta yang lebih lembut, yang tidak menyakitkan.
Dan jika suatu hari aku kembali mencintai seseorang, aku harap aku sudah utuh. Aku ingin datang bukan karena butuh tempat bersandar, tapi karena ingin berjalan bersama. Aku ingin cinta yang tidak mengorbankan siapa pun — terutama diriku sendiri. Cinta yang tumbuh dari rasa tenang, bukan dari rasa takut kehilangan.
Jadi, kepada aku: terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Maaf karena dulu aku sering lupa bahwa kamu juga pantas disayangi, bahkan sebelum siapa pun datang. Mulai hari ini, biarlah tulisan ini menjadi pengingat, bahwa mencintai diri sendiri bukan bentuk egoisme, melainkan cara paling tulus untuk bersyukur atas hidup yang masih terus berjalan.
> Karena sebelum mencintai siapa pun lagi, aku harus kembali menemukan rumah di dalam diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar