SEMESTA MEMOHON SEDANG KAMU MASIH ABAI

Sudah sekian lama aku mencoba menyapamu kembali, ternyata kamu memang benar-benar abai. Aku tidak tahu sejak kapan sapaan sederhana dariku menjadi sesuatu yang tidak lagi kamu anggap perlu untuk dijawab. Barangkali aku terlalu lama berdiri di depan pintu yang sudah tidak lagi kamu buka, sementara aku masih mengira ada ruang kecil yang tersisa untuk sekadar berbicara. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu, bagaimana hidupmu setelah sekian lama, dan apakah masih ada sedikit ruang bagimu untuk mengenalku kembali.


Sepertinya hubunganmu yg sebelumnya yg aku anggap tidak bertahan lama sudah kandas. Aku pernah mengira kisah itu akan berlangsung lebih lama, sebab dari jauh aku melihatnya seperti sesuatu yang sudah menemukan tempatnya sendiri. Tetapi waktu rupanya memiliki kehendak lain. Ada hubungan yang terlihat kokoh dari kejauhan, tetapi ternyata hanya menunggu musim berganti untuk runtuh dengan sendirinya. Dan aku, yang hanya mampu melihat dari jarak yang aman, kembali bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian.

Kini Kamu memiliki lelaki baru. Kalimat itu sebenarnya sederhana, tetapi entah mengapa cukup berat untuk diterima oleh seseorang yang selama ini masih menyimpan harapan. Aku tidak tahu siapa dia, bagaimana dia memperlakukanmu, atau apa yang membuatmu memilihnya. Aku hanya tahu bahwa lagi-lagi aku datang terlambat, seperti seseorang yang baru tiba ketika kereta sudah meninggalkan peron. Mungkin memang begitulah caranya kehidupan mempermainkan seseorang yang terlalu lama menyimpan maksud tanpa pernah benar-benar menyampaikannya.

Apakah dirimu benar benar sepi? Pertanyaan itu sering muncul di kepalaku, meskipun mungkin aku tidak mempunyai hak untuk mengetahuinya. Sebab seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang tetapi tetap memiliki ruang kosong yang tidak tersentuh siapa pun. Bisa jadi kamu baik-baik saja, bisa jadi kamu bahagia, atau mungkin ada bagian dari dirimu yang juga masih mencari sesuatu yang belum ditemukan. Aku tidak ingin menerka terlalu jauh, sebab hidupmu tetap menjadi milikmu dan aku hanya seseorang yang masih menyimpan rasa dari kejauhan.

Atau semesta belum merestui tentang ketidak sengajaan agar kita saling memiliki? Mungkin setiap pertemuan memang memiliki waktunya sendiri, dan kita hanya bertemu pada halaman yang belum tepat untuk dituliskan bersama. Bisa jadi aku dan kamu terlalu sibuk menjalani kehidupan masing-masing sampai lupa bahwa ada kemungkinan kecil yang sejak dulu belum selesai. Atau mungkin semesta memang sengaja membuat kita saling berpapasan berkali-kali, hanya untuk menguji apakah rasa yang tersimpan mampu bertahan melewati waktu.


Aku tidak tahu harus menganggap semua ini sebagai harapan atau sekadar kebetulan. Yang aku tahu, setelah sekian lama aku masih menemukan dirimu di tempat-tempat yang tidak pernah aku duga. Dalam ingatan, dalam perjalanan pulang, dalam lagu yang kebetulan terdengar, bahkan dalam percakapan yang sama sekali tidak membicarakan tentangmu. Rasanya seperti ada sesuatu yang belum selesai, meskipun tidak pernah benar-benar dimulai.

Dan mungkin itulah yang paling melelahkan dari sebuah perasaan: bukan karena ia terlalu besar, tetapi karena ia tidak pernah mendapatkan kepastian. Aku sudah mencoba menyapamu kembali, tetapi kamu tetap abai. Aku sudah mencoba membuka kembali percakapan, tetapi mungkin pintu itu memang tidak pernah ingin kamu buka. Maka kini aku hanya bisa berdiri sedikit lebih jauh, melihatmu menjalani hidupmu bersama pilihanmu, sambil menyimpan satu pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban.

Jika suatu hari nanti kamu bertanya mengapa aku pernah begitu lama menunggu, mungkin jawabannya sederhana: karena aku pernah percaya bahwa ketidaksengajaan bisa menjadi cara paling indah yang dipakai semesta untuk mempertemukan dua manusia.

Aku hanya belum tahu, apakah kamu adalah seseorang yang sedang kutunggu, atau seseorang yang sedang diajarkan semesta untuk kulepaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

NAKAL SILAKAN, BAJINGAN JANGAN

NURANI SEPI DI SISA MALAM, TUHAN TERABAIKAN