INTERESTING TASTE? AH SUDAHLAH

Aku mendengar kabar itu dari kamu dengan nada santai, seperti sedang mengumumkan hal kecil yang tidak terlalu penting. Kamu bilang sekarang sudah punya significant other. Aku tentu saja tersenyum, karena manusia yang beradab tidak boleh terlihat terlalu terkejut. Padahal di dalam hati aku sedang menegosiasikan banyak perasaan sekaligus. Aku mencoba menerima bahwa posisi yang dulu aku harapkan, kini ditempati oleh seseorang yang kamu sebut dengan penuh bangga itu.

Aku berusaha berpikir positif tentang your chosen one. Kamu bilang dia baik, perhatian, dan punya selera humor yang lucu. Aku mengangguk saja, karena imajinasi manusia memang luas sekali. Tapi ketika aku melihat fotonya, aku mulai memahami satu teori lama. Rupanya benar, love is blind, bahkan kadang seperti lampu yang sengaja dimatikan dari awal.

Tapi tenang saja, aku bukan orang yang mudah menghina. Aku sangat menjaga etika ketika membicarakan your special person. Bahkan ketika aku melihat wajahnya yang penuh karakter itu, aku tetap menahan diri. Aku tidak pernah menyebutnya mirip monyet, tidak pernah sama sekali. Walaupun alam kadang memang punya cara unik menciptakan bentuk yang inspiratif.

Jujur saja aku sedikit kagum dengan pilihanmu. Dari sekian banyak manusia di dunia ini, kamu bisa menemukan seseorang yang begitu… berbeda dari standar umum. Orang lain biasanya mencari yang good looking. Kamu justru terlihat nyaman dengan konsep rare specimen. Itu bukan hal yang mudah, butuh keberanian dan visi yang luas.

Kadang aku bertanya-tanya bagaimana awal kisah antara kamu dan your beloved. Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa. Atau mungkin kamu menemukan keindahan yang hanya muncul jika logika sedang libur. Aku tidak tahu metode apa yang kamu gunakan. Tapi jelas sekali kamu memiliki definisi estetika yang sangat fleksibel.

Meski begitu aku tetap mencoba bersikap dewasa. Setiap kamu bercerita tentang your partner, aku selalu mengangguk seperti semuanya masuk akal. Aku tidak pernah tertawa, walaupun semesta seperti sedang menyiapkan komedi kecil di sudut pikiranku. Aku juga tidak pernah bilang kamu pantas mendapat sesuatu yang lebih baik. Aku hanya kadang diam sebentar lalu berkata, “Oh… jadi itu your type ya.”

Sebenarnya aku tidak marah, hanya sedikit emotionally sulking. Rasanya seperti kalah dalam permainan yang bahkan aku tidak tahu sedang dimainkan. Tapi yang membuatku heran bukan kekalahannya. Yang membuatku bingung adalah hasil akhirnya. Dari semua kemungkinan yang ada, kamu memilih plot twist yang benar-benar tidak terduga.

Jadi tenang saja, aku tidak akan menghina your significant other. Aku akan tetap sopan setiap kali kamu menyebut namanya. Paling aku hanya tersenyum kecil sambil menatap langit sebentar. Lalu aku berkata dalam hati, “Well… taste is truly subjective.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN HARI RAYA

KENAPA TIDAK MEMILIH MENJADI SEPERTI KARTINI?

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN