BUKAN ATAU BAHKAN SEHARUSNYA
Siapa yang paling bertanggung jawab saat seorang pria jatuh cinta? Siapa yang harus disalahkan ketika rindu tumbuh tanpa izin, ketika harapan menyusun masa depan yang tak pernah dijanjikan? Apakah hati yang terlalu cepat percaya, atau tatapanmu yang terlalu mudah dimaknai? Aku ingin menunjuk sesuatu, siapa saja, agar ada yang bisa kupersalahkan. Karena menerima kenyataan terasa jauh lebih menyakitkan daripada marah pada keadaan.
Aku tidak pernah meminta perasaan ini datang sedalam ini. Ia tumbuh perlahan, lalu tiba-tiba mengakar. Aku merawatnya diam-diam, memberinya ruang, membiarkannya hidup dalam kemungkinan yang kubangun sendiri. Dan hari itu, ketika aku melihatmu berjalan bersamanya, semua kemungkinan itu runtuh dalam satu pandangan. Tidak ada peringatan. Tidak ada jeda untuk bersiap.
Aku tidak terima. Bukan karena kamu memilihnya, tapi karena aku merasa sempat memiliki peluang yang tak pernah benar-benar ada. Selama ini aku membaca tanda yang mungkin hanya kebetulan. Aku mengartikan perhatian kecil sebagai sesuatu yang istimewa. Dan kini aku berdiri seperti orang bodoh yang baru sadar bahwa cerita itu hanya hidup di kepalaku sendiri.
Melihatmu bersamanya seperti ditampar tanpa suara. Kamu tertawa, wajahmu ringan, langkahmu seirama dengannya. Aku berdiri beberapa meter dari sana, menahan amarah yang tidak punya alamat. Ingin rasanya aku bertanya: sejak kapan? Mengapa tidak pernah aku tahu? Tapi apa hakku? Bahkan pertanyaan itu terasa memalukan untuk dipikirkan.
Rindu yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi sesuatu yang getir. Aku marah pada diriku sendiri karena terlalu berharap. Marah karena membiarkan hati percaya pada sesuatu yang tidak pernah kamu janjikan. Aku ingin mengatakan bahwa ini tidak adil, tapi hidup memang tidak pernah menawarkan keadilan dalam urusan rasa. Ia hanya memberi kenyataan, lalu memaksa kita menelannya bulat-bulat.
Sepanjang perjalanan pulang, kepalaku penuh suara. Aku mencoba keras terlihat biasa saja, seolah pertemuan itu tak berarti apa-apa. Tapi di dalam, ada bagian yang menolak tunduk. Aku tidak ingin selesai seperti ini. Tidak ingin perasaan yang kujaga sekian lama berakhir tanpa pernah diperjuangkan. Namun semakin kupikirkan, semakin jelas satu hal: aku marah bukan karena kamu bahagia, tapi karena aku tidak pernah benar-benar menjadi pilihan.
Mungkin memang tidak ada yang harus bertanggung jawab. Tidak kamu. Tidak juga waktu. Hanya aku yang terlalu lama tinggal di ruang harapan yang tidak pernah kamu bangun. Dan menerima itu terasa seperti kekalahan paling sunyi yang pernah kurasakan.
Karena kadang, yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan — melainkan menyadari bahwa sejak awal, aku tidak pernah benar-benar ada dalam ceritamu.
Komentar
Posting Komentar