SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

Aku tidak pernah membuat wishlist seseorang yang aku sayang pergi begitu saja. Barangkali dunia berjalan berdasar pada alam, makhluk hidup, lingkungan dan dengan pertanda-pertandanya. Siapa yang membuat keputusan untuk menghilangkan nyawa seseorang? siapa yang berhak? siapa yang berhak mengatur seseorang pergi dari dunia ini? Aku tidak menduga, semua keyakinan entah dalam ilmu religi, ilmu nenek moyang, semua berkaitan. Takdir memang unik dan sulit diprediksi.


Aku punya seorang panutan dan kepala keluarga yang hebat. Simbol cinta, perjuangan, harapan, tanggung jawab dan hampir setiap kepala keluarga yang baik pasti melakukannya. Aku selalu percaya diri pada setiap langkah yang aku putuskan, karena aku percaya banyak orang-orang berdo'a dibelakangku yang membuat jalanku terus kuat dan langgeng. Ada banyak hal yang ingin aku persembahkan sebetulnya. Namun baru segelintir saja yang terasa. 

Perihal Sedih barangkali ada orang lain lebih parah dariku, lebih nyesek dan down bahkan setiap saat. Tapi ukuran kesedihan seseorang tidak dapat diukur dari untung-untungan dan mendang-mending saja. Banyak kepedulian, empati datang dari orang-orang hebat di dekatku, mereka yang hadir dan menguatkan aku tidak akan melupakan. Mereka yang mengirim do'a dari kejauhan, mereka terus menguatkan. Aku tidak bisa merespon apapun, bagiku mereka yang bersilaturahmi kerumah patut aku ajak becanda seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah bagiku mereka main seperti hari-hari biasa. Dan nyatanya tidak.

Awalnya aku menjalani hari seperti biasa berkumpul dengan keluarga pada umumnya, namun ada perilaku yang tidak semestinya. Bayangkan seseorang pergi tanpa berpamitan untuk selamanya? riwayat sakit pun tidak. Sore itu sepulang kerja aku duduk dengan keluarga bercanda bercerita sebagaimana hari biasanya. Namun ada sifat seorang ayah yang berbeda, terlihat lebih excited, ceria dan guyonku yang sedikit itu dia tertawa sampai ngakak. Menganggap anak-anaknya seperti masih kecil. Kakak perempuanku pun diajak kejar-kejaran. Dalam benakku kenapa "kok sok asik? sembari aku lebih tenang karena semua terlihat senang".

Selepas itu hampir menuju Magrib, aku diajak mencari ikan gabus oleh pamanku. Aku pergi menuju sawah dengan suasana sore matahari terbenam dan suara hewan khas membisik di telinga. Ikan gabus di sana sangat banyak dan besar-besar seperti jaman dimana sawah belum mengenal peptisida. Sepulang itu karena aku tidak begitu pandai mengolah ikan, akhirnya ayahku yang mengolahnya. Di cuci, dipotong semuanya. Sempat juga menyuruhku mengajak adik sepupu bermain Playstation, karena kebetulan dia baru saja pulang.

Malamnya ada kumpulan warga yang biasanya diselingi tahlil, dia masih memimpinnya, masih membaca kalimat tuhan, dan setelahnya masih ngopi dengan orang-orang layaknya suasana selepas hajatan. Sampai rumah, karena aku yang tiba-tiba jenuh malam itu. Aku bongkar kipas untuk dibersihkan, aku minta tolong dia carikan obeng. Ketika mencarikan sangat semangat sampai dalam benakku "kok ga seperti punya rasa lelah ya?". Saat sudah ketemu dan aku bawa. Dia bilang "itu buat kamu aja obengnya, udah bawa buat kamu". Dari aku punya firasat aneh kok ngomongnya gitu nada dan notasinya berbeda bukan seperti dia. Firasatku yang aneh dari sejak sore hingga malam selalu terngiang, aku tidak ingin membayangkan. Namun firasat itu hadir tiba-tiba.

Subuh ayahku masih berangkat jamaah, dan banyak juga orang yang melihat. Seperti orang tua pada umumnya yang saling bertegur sapa dikala bertemu, menikmati obrolan mereka dan menghirup udara fajar sementara aku yang masih lelap tertidur di kamar. Maaf kalau masih menjadi anak yang keras kepala. Pagi buta berangkat kerja di luar kota di temani pamanku yang satunya, yang memang ketika bekerja sering pergi bersama. 

Aku yang seperti biasa berangkat kerja pagi sedikit siang, menjalani hari seperti biasa seolah tidak akan terjadi apa-apa. Hari itu aku mendapati suasana yang berbeda seperti orang-orang tidak berada di Pihaku. Menjelang siang aku mendapat telfon dari istrinya pamanku, katanya ayahku krisis saat istirahat di Masjid tidak sadarkan diri dan di bawa ke rumah sakit. Bagiku terdengar seperti lelucon namun nada bicaranya terlalu serius untuk aku dengar. Aku di suruh memberitahu ibuku dan segera berangkat. 

Di perjalanan aku selalu berdo'a dan membatin firasatku yang sebelumnya. Kalau hari ini memang terjadi berarti pradugaku benar, namun aku selalu meyakinkan diri sembari tidak mungkin berulang kali. Bercampur dengan ayat tuhan bahwa setiap bernyawa pasti akan tiada. Pikiranku sudah penuh dan berharap tidak terjadi. Sesampai di rumah sakit aku melihat sudah keluar tangisan air mata  dari pamanku. Ternyata sudah tidak tertolong. Rasanya seperti mimpi. Banyak hal yang terjadi, versi orang-orang, saksi hidup dan lain sebagainya. 

Aku seperti sendirian, tidak ada penenang, tidak ada pelukan, aku buka ponselku dan berkabar pada satu-satunya orang yang bagiku bisa menjadi obat penenang nyatanya canggung aku tidak bisa berucap panjang. Masih banyak yang aku rasakan, namun aku hanya bisa menuliskan sosok kebaikan seseorang yang menjadi pelindungku dari lahir. Dia pergi seolah urusannya dengan Tuhan, manusia, dan alam sekalipun telah selesai di dunia. Jalannya rapi mudah dan sangat halus.

Meski tidak sekolah jurusan dokter, Namun aku selalu melihat diskusi-diskusi kesehatan, dari pakar, ahli di berbagai platform sosial media. Poadcast dari banyak dokter semua aku saksikan. Semua penyakit aku pelajari penyebab dan cara penanganan, semuanya. Aku hanya ingin orang-orang di sekitarku bisa hidup sehat dan terjaga. Tapi soal kematian? Tanpa riwayat sakit tanpa pertanda apapun? Tidak bisa diprediksi. Bagaimana cara menyikapinya? -_

Hal paling menyakitkan dari kematian adalah saat kita sadar orang itu tidak ada lagi di pencapaian kita berikutnya.

Alfatihah~



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN

SAID I LOVE YOU FOR 49 DAYS

SEPERTI LAGU // RUMAH KE RUMAH