TUHAN, SEPERTINYA VOUCHERKU MASIH TERSISA
Tuhan, sepertinya ada sesuatu yang belum habis. Aku pikir masa untuk jatuh cinta sudah lewat, bahwa aku cukup menjadi penonton bagi orang lain yang berbahagia. Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dalam diri — bukan gejolak, melainkan keyakinan kecil bahwa aku masih bisa mencoba lagi. Mungkin Engkau sedang memberi isyarat halus bahwa tidak semua kisah berakhir di sunyi.
Aku pernah menyerah pada urusan hati. Terlalu banyak janji yang tidak dijaga, terlalu sering percaya pada kata yang tak bermakna. Waktu berjalan, dan aku belajar diam. Aku membangun benteng yang membuatku terlihat kuat, padahal aku hanya tidak ingin terluka lagi. Tapi bahkan di antara kesepian yang panjang, aku tahu: hati manusia tidak diciptakan untuk berhenti berharap. Ia hanya perlu waktu untuk tenang sebelum berani membuka diri lagi.
Kini aku tidak menuntut cinta yang besar atau kisah yang megah. Aku hanya ingin seseorang yang bisa diajak berbagi keheningan tanpa merasa canggung. Seseorang yang hadir tanpa banyak rencana, tapi membawa rasa aman yang tidak dibuat-buat. Aku ingin hubungan yang sederhana — jujur, bersih, dan cukup. Tidak perlu banyak janji, cukup komitmen yang nyata. Tidak perlu kata manis, cukup tindakan yang lembut.
Tuhan, bila Engkau masih memberiku kesempatan, izinkan aku menemukan seseorang yang bisa kucintai dengan cara yang dewasa. Seseorang yang tidak datang untuk mengisi kekosongan, tapi untuk berjalan bersama. Aku ingin cinta yang membuatku lebih mengenal diri sendiri, bukan kehilangan arah di dalamnya. Cinta yang tumbuh dari ketulusan, dan tetap bertahan ketika dunia tidak seromantis doa.
Dan jika hari itu tiba—hari ketika Engkau mempertemukan dua hati yang sama-sama pernah retak—aku hanya ingin mengucap lirih: “Terima kasih, Tuhan. Ternyata voucherku memang belum habis, hanya sempat tertunda oleh luka yang Kau ubah menjadi pelajaran.”
Komentar
Posting Komentar