Postingan

SEDARI DULU, SELAMA INI AKU MASIH MENCINTAIMU

Pernahkah kamu mengingat sesuatu yang amat sulit untuk ku akui? Bukan dengan keramaian seperti di awal perasaan itu tumbuh, tapi dengan diam yang perlahan belajar untuk tenang. Waktu sudah banyak berlalu, membawaku pada banyak hal baru, tapi setiap kali aku berhenti sejenak, ada ruang kecil dalam hati yang tetap mengingatmu. Aku tidak ingin membesar-besarkan rasa ini, hanya mengakui bahwa ia masih ada — sederhana, tapi jujur. Aku tak yakin ini masih cinta, atau hanya bentuk penghargaan terhadap seseorang yang pernah begitu berarti. Tapi setiap kali aku mencoba menghapus namamu dari pikiran, yang hilang justru sebagian dari diriku sendiri. Kamu telah menjadi bagian dari perjalanan, bukan sekadar kenangan. Seperti halaman lama yang tak lagi kubaca, tapi tidak tega kusingkirkan, karena di sanalah aku pernah benar-benar merasa hidup. Waktu terus berjalan, dan aku pun berubah. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan perasaan sebagai pusat segalanya. Aku mulai memahami bahwa kehilangan juga ...

TUHAN, SEPERTINYA VOUCHERKU MASIH TERSISA

Tuhan,  sepertinya ada sesuatu yang belum habis. Aku pikir masa untuk jatuh cinta sudah lewat, bahwa aku cukup menjadi penonton bagi orang lain yang berbahagia. Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dalam diri — bukan gejolak, melainkan keyakinan kecil bahwa aku masih bisa mencoba lagi. Mungkin Engkau sedang memberi isyarat halus bahwa tidak semua kisah berakhir di sunyi. Aku pernah menyerah pada urusan hati. Terlalu banyak janji yang tidak dijaga, terlalu sering percaya pada kata yang tak bermakna. Waktu berjalan, dan aku belajar diam. Aku membangun benteng yang membuatku terlihat kuat, padahal aku hanya tidak ingin terluka lagi. Tapi bahkan di antara kesepian yang panjang, aku tahu: hati manusia tidak diciptakan untuk berhenti berharap. Ia hanya perlu waktu untuk tenang sebelum berani membuka diri lagi. Kini aku tidak menuntut cinta yang besar atau kisah yang megah. Aku hanya ingin seseorang yang bisa diajak berbagi keheningan tanpa merasa canggung. Seseora...

SELAMAT PAGI, JOGJA

Selamat pagi, Jogja. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk mencari sesuatu yang pernah hilang — rasa yang dulu membuat jantungku berdetak tanpa alasan. Setiap sudut kotamu masih sama, aroma kopi dari warung kecil di dekat stasiun, langkah orang-orang yang bergegas menuju kampus, dan senyum asing yang kadang membuat hati tiba-tiba hangat. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kenangan. Ada yang bilang, Jogja selalu menyimpan cinta di tiap embusan angin paginya. Aku percaya itu, karena entah bagaimana, setiap kali aku menatap matahari terbit di Tugu, aku merasa sedang menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang. Cinta di kota ini seperti lagu yang lembut — tidak pernah benar-benar usai, hanya berganti lirik dari satu hati ke hati lain. Aku pernah jatuh cinta di sini, pada seseorang yang mengajarkan bahwa rindu bisa tumbuh bahkan tanpa janji. Dia seperti buku yang tidak sempat kuselesaikan, dan setiap kali aku membuka halaman barunya, yang ku...

MAR? NAMAMU TERDENGAR SAMAR

Ada nama yang masih bergetar di antara ingatan, meski waktu berusaha mengaburkannya. Mar, begitu samar terdengar di telinga, seakan hanya bisikan angin yang enggan benar-benar pergi. Aku tidak tahu mengapa setiap huruf darinya bisa membuatku terhenti. Barangkali memang ada nama yang ditakdirkan hidup lebih lama dalam dada, ketimbang sekadar diucapkan. Aku ingat kali pertama mendengarmu dipanggil, ada denyut yang sulit dijelaskan. Sesuatu di dalam diriku merespons seolah sudah mengenalmu jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Nama itu sederhana, tapi memiliki gema yang panjang. Seperti nada yang tidak selesai dipetik, dibiarkan menggantung, tapi tetap terdengar indah. Marrr shh rrkh, aku sering kali berusaha meyakinkan diri bahwa kamu hanyalah bagian kecil dari cerita yang lewat. Namun, setiap percakapan singkat dengamu selalu menggoreskan kesan yang panjang. Aku seperti sedang berjalan di jalan sempit yang diapit tembok tinggi—sulit mencari jalan keluar, namun enggan juga berbalik arah. D...

JATUH HATI DI WAKTU YANG LAMA APA MASIH PANTAS DISEBUT JATUH CINTA?

Ibarat hujan yang tak kunjung reda, rasa ini seakan bertahan di satu musim. Aku tidak pernah tahu mengapa, setiap kali mengingatmu, hatiku masih bergetar dengan cara yang sama. Mungkin jatuh cinta memang tidak membutuhkan alasan, cukup sebuah tatap yang membekas. Dan aku masih terjebak di dalamnya, meski waktu terus mengikis. Ada yang bilang, cinta butuh keberanian untuk diucapkan sebelum terlambat. Tapi bagaimana jika waktu justru berjalan begitu lama, dan aku masih saja terjebak pada rasa yang sama? Aku pernah jatuh hati padamu, sederhana, tanpa banyak pertemuan, tanpa janji. Hanya lewat perhatian kecil, cara bicaramu, dan kehangatan yang tak pernah kutemukan di tempat lain.  Waktu berlalu, jarak menjauhkan, percakapan terputus. Namun setiap kali namamu terlintas, dada ini tetap bergetar seperti pertama kali aku mengenalmu. Apakah ini cinta, atau hanya kenangan yang terlalu enggan pergi? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa ini masih hidup, meski tidak lagi punya tempat untuk bertum...

WHERE IS YOU? (sebuah catatan ringan, dari aku yang tidak sedang bercanda sepenuhnya)

Ada satu masa yang sebenarnya belum terlalu lama berlalu, tetapi terasa seakan berasal dari waktu yang berbeda. Masa ketika mengenalmu tidak perlu disertai peta hidup lima tahun ke depan. Aku hanya mendengarkanmu, kamu menanggapi, dan keberadaanmu sudah cukup membuat semuanya terasa hangat. Tak ada target yang harus dicapai, tak ada ekspektasi untuk dipenuhi, bahkan tak ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan terlalu serius. Semua mengalir dengan sendirinya—seperti senyum kecil yang muncul tanpa diminta. Aku masih ingat, waktu itu aku sempat bergurau, bahwa singkatan SW yang lazim dikenal sebagai “Story WhatsApp” lebih cocok disebut “Sarung Wadimor”. Aku tidak tahu apakah itu lucu atau justru sangat tidak lucu, tapi kamu tertawa. Tertawa seperti anak kecil yang belum mengenal istilah peran sosial. Ringan, jujur, dan tanpa beban. Mungkin, itu adalah salah satu detik di mana aku merasa: ya, segalanya masuk akal saat kamu tertawa seperti itu. Kamu dan aku pernah tenggelam dalam percakapa...

GELAR BARU

Akhirnya, aku sampai juga. Mungkin tak secepat orang lain, tak semeriah mereka yang sejak awal tahu ke mana arah hidupnya. Tapi hari ini, aku menyandang sesuatu yang baru di belakang namaku—bukan sekadar gelar, tapi serpih-serpih dari malam panjang, dari air mata yang jatuh diam-diam, dari langkah yang tetap berjalan meski banyak ingin menyerah. Hari ini, semua itu bernama kelulusan. Barangkali inilah momen pengesahan terakhir dari sidang hidupku—putusan final dari perjuangan yang selama ini kuajukan dalam diam. Tapi jika ada yang paling ingin kusampaikan, maka ini bukan tentang toga atau transkrip nilai. Ini tentang kamu. Seseorang yang pernah hadir dengan cara yang tidak biasa—lewat percakapan ringan yang berubah jadi kebiasaan, lewat pertemuan acak yang tak lagi terasa kebetulan. Kamu yang tak pernah menanyakan bagaimana tulisan-tulisaku, tapi lebih peduli pada apakah aku sudah makan. Kamu yang tidak ikut di hari yudisiumku, tapi aku tahu: di setiap kesunyian bacaku, ada doamu yang ...