GELAR BARU
Akhirnya, aku sampai juga. Mungkin tak secepat orang lain, tak semeriah mereka yang sejak awal tahu ke mana arah hidupnya. Tapi hari ini, aku menyandang sesuatu yang baru di belakang namaku—bukan sekadar gelar, tapi serpih-serpih dari malam panjang, dari air mata yang jatuh diam-diam, dari langkah yang tetap berjalan meski banyak ingin menyerah. Hari ini, semua itu bernama kelulusan. Barangkali inilah momen pengesahan terakhir dari sidang hidupku—putusan final dari perjuangan yang selama ini kuajukan dalam diam.
Tapi jika ada yang paling ingin kusampaikan, maka ini bukan tentang toga atau transkrip nilai. Ini tentang kamu. Seseorang yang pernah hadir dengan cara yang tidak biasa—lewat percakapan ringan yang berubah jadi kebiasaan, lewat pertemuan acak yang tak lagi terasa kebetulan. Kamu yang tak pernah menanyakan bagaimana tulisan-tulisaku, tapi lebih peduli pada apakah aku sudah makan. Kamu yang tidak ikut di hari yudisiumku, tapi aku tahu: di setiap kesunyian bacaku, ada doamu yang diam-diam menyusup masuk. Seolah kamu adalah yurisprudensi dari semua hal yang tidak pernah bisa kuterangkan—acuan diam yang selalu membimbing keputusanku.
Cerita kita panjang. Tidak selalu rapi. Ada jeda yang tak sempat dijelaskan, ada keraguan yang tak sempat dibicarakan. Kita tumbuh, belajar, dan kadang menjauh hanya karena dunia menuntut kita menjadi versi terbaik dari diri kita—meski itu berarti harus menepi sejenak dari satu sama lain. Tapi aku tahu, dalam perjalanan yang begitu riuh, kamu tetap menjadi diam yang selalu ingin kudatangi. Jika hubungan adalah perjanjian, maka kamu adalah klausul yang tak ingin kuakhiri—pasal yang terus hidup meski waktu tak mempertemukan.
Gelar ini bukan hanya milikku. Ia milik semua yang pernah percaya padaku, termasuk kamu—yang mungkin tak tahu seberapa besar artimu dalam perjalananku. Kamu adalah jeda yang membuatku tidak kelelahan dalam usaha. Kamu adalah wajah yang sering hadir dalam khayalku saat aku nyaris menyerah, mengingatkan bahwa perjuangan ini bukan sekadar tentang kertas bersampul hijau lime, tapi tentang membuktikan bahwa cinta juga bisa bertanggung jawab. Cintamu adalah asas yang diam-diam kugunakan: asas kepatutan, asas kelayakan, asas keikhlasan—tanpa kamu tahu bahwa aku menjadikannya hukum tertinggi dalam hatiku.
Hari ini, aku lulus. Tapi yang paling ingin kuperoleh sejak dulu adalah kepantasan. Kepantasan untuk menyebut namamu dalam doa tanpa rasa bersalah. Kepantasan untuk mencintaimu bukan hanya dengan rindu, tapi dengan kesiapan yang tumbuh dari tempaan. Dan jika kelak kamu bertanya untuk siapa aku mengerjakan semua ini—maka aku tak akan menyebut banyak nama. Karena dalam hati yang sudah melewati banyak pembuktian, kamu adalah satu-satunya yang pantas menjadi pihak yang sah untuk menerima segalanya.
Hanya satu: untuk kamu, yang selalu kusebut dalam diam, bahkan sebelum aku tahu cara mempersembahkan gelar ini.
Komentar
Posting Komentar