JATUH HATI DI WAKTU YANG LAMA APA MASIH PANTAS DISEBUT JATUH CINTA?
Ibarat hujan yang tak kunjung reda, rasa ini seakan bertahan di satu musim. Aku tidak pernah tahu mengapa, setiap kali mengingatmu, hatiku masih bergetar dengan cara yang sama. Mungkin jatuh cinta memang tidak membutuhkan alasan, cukup sebuah tatap yang membekas. Dan aku masih terjebak di dalamnya, meski waktu terus mengikis.
Ada yang bilang, cinta butuh keberanian untuk diucapkan sebelum terlambat. Tapi bagaimana jika waktu justru berjalan begitu lama, dan aku masih saja terjebak pada rasa yang sama? Aku pernah jatuh hati padamu, sederhana, tanpa banyak pertemuan, tanpa janji. Hanya lewat perhatian kecil, cara bicaramu, dan kehangatan yang tak pernah kutemukan di tempat lain.
Waktu berlalu, jarak menjauhkan, percakapan terputus. Namun setiap kali namamu terlintas, dada ini tetap bergetar seperti pertama kali aku mengenalmu. Apakah ini cinta, atau hanya kenangan yang terlalu enggan pergi? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa ini masih hidup, meski tidak lagi punya tempat untuk bertumbuh. Barangkali jatuh cinta tidak selalu soal memiliki. Kadang ia hanya tentang menjaga rasa, meski tanpa alasan yang jelas.
Aku mengingatmu bukan karena aku ingin, tapi karena setiap hal kecil mampu menyeret kembali memorimu. Aroma kopi, senyum orang asing, bahkan langkah kaki di trotoar bisa menghadirkanmu sekejap. Rasanya seolah dunia sedang berkonspirasi untuk membuatku tetap mengingatmu. Aku pasrah, meski kadang ingin sekali lupa.
Dulu aku percaya waktu bisa menyembuhkan segalanya, ternyata tidak. Waktu hanya membuat jarak semakin jauh, tapi tidak pernah benar-benar memudarkan rasa. Aku mencoba berdamai dengan kenyataan, namun rinduku seperti bayangan yang enggan hilang. Diam-diam, aku masih memelukmu dalam doa-doa malamku.
Kamu pernah jadi alasan aku tertawa tanpa sebab, sekadar karena obrolan singkat yang kita miliki. Kata-katamu sederhana, tapi punya daya yang tidak biasa. Ada kehangatan yang berbeda, seolah aku benar-benar dihargai sebagai manusia. Dan sejak saat itu, aku tahu, aku jatuh hati.
Meski kita tidak pernah punya hubungan sebagaimana orang rayakan tiap tahunnya, aku tetap merasa pernah memiliki dunia kecil bersamamu. Dunia itu hanya diisi dengan komunikasi singkat dan perhatian samar, tapi bagiku itu cukup. Kadang aku iri pada diriku yang dulu, yang berani merasa bahagia hanya dengan sedikit. Kini aku hanya menatap kosong, merindukan sesuatu yang pernah sederhana.
Kamu adalah definisi cantik yang tidak pernah bisa kuterjemahkan dengan kata-kata. Bukan hanya wajahmu, tapi juga caramu memperhatikan, membimbing, dan mendengarkan. Ada kelembutan yang bahkan membuat luka terdalamku merasa aman. Dan itulah mengapa aku tidak pernah bisa benar-benar pergi.
Waktu memang membuat jarak, tapi tidak mengubah getaran di dadaku. Aku sudah berulang kali mencoba menyembunyikannya, seolah tidak pernah ada apa-apa. Nyatanya, setiap aku kalah pada ingatan, aku kembali jatuh di titik yang sama. Seperti lingkaran tak berujung, rasa ini berputar tanpa henti.
Barangkali cinta bukan soal seberapa cepat kita mengakuinya, tapi seberapa tulus kita menjaganya, meski hanya di dalam hati. Aku menjaga ini bukan karena aku lemah, melainkan karena aku masih percaya rasa seharusnya tidak dipaksa hilang. Setiap kali aku ingin menyerah, aku justru semakin sadar bahwa namamu terlalu dalam untuk terhapus. Dan mungkin, begitulah cinta bekerja.
Jadi, jika suatu hari kamu bertanya, apakah aku masih jatuh cinta padamu setelah sekian lama—aku tidak akan menyangkal. Ya, aku masih jatuh hati, bahkan ketika waktu sudah begitu kejam. Ya, aku masih jatuh hati, meski tanpa kepastian dan tanpa ruang untuk memiliki. Dan mungkin, itu saja sudah cukup untuk menyebutnya cinta.
Komentar
Posting Komentar