WHERE IS YOU? (sebuah catatan ringan, dari aku yang tidak sedang bercanda sepenuhnya)

Ada satu masa yang sebenarnya belum terlalu lama berlalu, tetapi terasa seakan berasal dari waktu yang berbeda. Masa ketika mengenalmu tidak perlu disertai peta hidup lima tahun ke depan. Aku hanya mendengarkanmu, kamu menanggapi, dan keberadaanmu sudah cukup membuat semuanya terasa hangat. Tak ada target yang harus dicapai, tak ada ekspektasi untuk dipenuhi, bahkan tak ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan terlalu serius. Semua mengalir dengan sendirinya—seperti senyum kecil yang muncul tanpa diminta.

Aku masih ingat, waktu itu aku sempat bergurau, bahwa singkatan SW yang lazim dikenal sebagai “Story WhatsApp” lebih cocok disebut “Sarung Wadimor”. Aku tidak tahu apakah itu lucu atau justru sangat tidak lucu, tapi kamu tertawa. Tertawa seperti anak kecil yang belum mengenal istilah peran sosial. Ringan, jujur, dan tanpa beban. Mungkin, itu adalah salah satu detik di mana aku merasa: ya, segalanya masuk akal saat kamu tertawa seperti itu.

Kamu dan aku pernah tenggelam dalam percakapan-percakapan remeh: makanan apa yang tidak kamu suka tapi tetap kamu makan karena sungkan, hewan yang ingin kamu pelihara jika hidupmu tidak terlalu sibuk, hingga pertanyaan-pertanyaan absurd seperti, “Kalau kamu jadi tumbuhan, kamu ingin jadi apa?” Aku menjawab lumut—karena ia bisa hidup di tempat lembap, tidak membutuhkan banyak ruang, dan tidak mengganggu siapa pun. Kamu hanya tersenyum, lalu diam. Tapi diam yang tidak asing.

Sekarang, segalanya terasa lebih kaku dari yang pernah aku bayangkan. Perbincangan menjadi terlalu terencana. Ada jeda yang panjang dalam setiap balasan, ada kalimat yang disusun terlalu hati-hati, seolah ada naskah yang harus dihafalkan sebelum berbicara. Aku tidak menyalahkanmu. Mungkin inilah bagian dari menjadi dewasa. Tapi di sela-sela itu, aku diam-diam bertanya: ke mana perginya kamu yang dulu?

Dan satu pertanyaan yang paling lama tinggal di kepalaku: apakah aku terlalu lambat untuk memilihmu, sehingga kamu lebih membuka jalan bagi pria lain yang datang dengan langkah lebih berani? Apakah keheningan yang kuanggap sebagai kesempatan berpikir, justru kamu maknai sebagai ketidakpastian yang melelahkan? Mungkin aku keliru dalam membaca waktu, atau mungkin kamu memang sudah lebih dulu lelah menunggu aku yang tak kunjung berkata “ya”.

Aku tahu, tidak semua hal bisa diulang. Tapi kalau suatu hari kamu menemui kembali dirimu yang lama—yang lebih sederhana, lebih jujur, dan lebih spontan—sampaikan salam dariku. Katakan bahwa aku masih mengingatnya, dan sesekali aku duduk sendiri, menyesap kenangan itu seperti seseorang yang menikmati kopi sore di teras rumah. Tanpa tergesa, tanpa alasan lain, selain karena rasanya tenang.

Mungkin kamu telah melangkah lebih jauh dari yang pernah bisa aku kejar, dan itu bukan kesalahan siapa-siapa. Sebab tidak semua yang datang lebih dulu punya keberanian untuk bertahan lebih lama. Aku belajar bahwa perasaan yang paling jujur pun bisa kalah oleh waktu yang tidak tepat, dan diam yang kubanggakan sebagai bentuk menjaga hati, ternyata bisa terlihat seperti tidak peduli. Barangkali kamu memang butuh seseorang yang mampu menjawab lebih cepat, dan aku hanya terlalu sibuk berdamai dengan kemungkinan.

Meski begitu, aku tetap menyimpanmu dalam ingatan yang baik. Bukan sebagai sosok yang meninggalkan, tapi sebagai seseorang yang pernah membuat segalanya terasa ringan meski tanpa kepastian. Kamu tidak perlu tahu, tapi aku bersyukur pernah mengenalmu dalam bentukmu yang dulu—yang sederhana, yang lucu, yang hangat. Jika suatu hari kamu menemukan kembali versi dirimu yang itu, peluklah sebentar, dan bisikkan padanya: ada seseorang yang pernah diam-diam sangat menghargainya.

Aku tidak terlambat, hanya saja kamu yang terlalu cepat menyerah pada yang lebih dulu berani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN

SABTU TIDAK BERSAMA BAPAK

SAID I LOVE YOU FOR 49 DAYS