Postingan

SELAMAT PAGI, JOGJA

Selamat pagi, Jogja. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk mencari sesuatu yang pernah hilang — rasa yang dulu membuat jantungku berdetak tanpa alasan. Setiap sudut kotamu masih sama, aroma kopi dari warung kecil di dekat stasiun, langkah orang-orang yang bergegas menuju kampus, dan senyum asing yang kadang membuat hati tiba-tiba hangat. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kenangan. Ada yang bilang, Jogja selalu menyimpan cinta di tiap embusan angin paginya. Aku percaya itu, karena entah bagaimana, setiap kali aku menatap matahari terbit di Tugu, aku merasa sedang menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang. Cinta di kota ini seperti lagu yang lembut — tidak pernah benar-benar usai, hanya berganti lirik dari satu hati ke hati lain. Aku pernah jatuh cinta di sini, pada seseorang yang mengajarkan bahwa rindu bisa tumbuh bahkan tanpa janji. Dia seperti buku yang tidak sempat kuselesaikan, dan setiap kali aku membuka halaman barunya, yang ku...

MAR? NAMAMU TERDENGAR SAMAR

Ada nama yang masih bergetar di antara ingatan, meski waktu berusaha mengaburkannya. Mar, begitu samar terdengar di telinga, seakan hanya bisikan angin yang enggan benar-benar pergi. Aku tidak tahu mengapa setiap huruf darinya bisa membuatku terhenti. Barangkali memang ada nama yang ditakdirkan hidup lebih lama dalam dada, ketimbang sekadar diucapkan. Aku ingat kali pertama mendengarmu dipanggil, ada denyut yang sulit dijelaskan. Sesuatu di dalam diriku merespons seolah sudah mengenalmu jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Nama itu sederhana, tapi memiliki gema yang panjang. Seperti nada yang tidak selesai dipetik, dibiarkan menggantung, tapi tetap terdengar indah. Marrr shh rrkh, aku sering kali berusaha meyakinkan diri bahwa kamu hanyalah bagian kecil dari cerita yang lewat. Namun, setiap percakapan singkat dengamu selalu menggoreskan kesan yang panjang. Aku seperti sedang berjalan di jalan sempit yang diapit tembok tinggi—sulit mencari jalan keluar, namun enggan juga berbalik arah. D...

JATUH HATI DI WAKTU YANG LAMA APA MASIH PANTAS DISEBUT JATUH CINTA?

Ibarat hujan yang tak kunjung reda, rasa ini seakan bertahan di satu musim. Aku tidak pernah tahu mengapa, setiap kali mengingatmu, hatiku masih bergetar dengan cara yang sama. Mungkin jatuh cinta memang tidak membutuhkan alasan, cukup sebuah tatap yang membekas. Dan aku masih terjebak di dalamnya, meski waktu terus mengikis. Ada yang bilang, cinta butuh keberanian untuk diucapkan sebelum terlambat. Tapi bagaimana jika waktu justru berjalan begitu lama, dan aku masih saja terjebak pada rasa yang sama? Aku pernah jatuh hati padamu, sederhana, tanpa banyak pertemuan, tanpa janji. Hanya lewat perhatian kecil, cara bicaramu, dan kehangatan yang tak pernah kutemukan di tempat lain.  Waktu berlalu, jarak menjauhkan, percakapan terputus. Namun setiap kali namamu terlintas, dada ini tetap bergetar seperti pertama kali aku mengenalmu. Apakah ini cinta, atau hanya kenangan yang terlalu enggan pergi? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa ini masih hidup, meski tidak lagi punya tempat untuk bertum...

WHERE IS YOU? (sebuah catatan ringan, dari aku yang tidak sedang bercanda sepenuhnya)

Ada satu masa yang sebenarnya belum terlalu lama berlalu, tetapi terasa seakan berasal dari waktu yang berbeda. Masa ketika mengenalmu tidak perlu disertai peta hidup lima tahun ke depan. Aku hanya mendengarkanmu, kamu menanggapi, dan keberadaanmu sudah cukup membuat semuanya terasa hangat. Tak ada target yang harus dicapai, tak ada ekspektasi untuk dipenuhi, bahkan tak ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan terlalu serius. Semua mengalir dengan sendirinya—seperti senyum kecil yang muncul tanpa diminta. Aku masih ingat, waktu itu aku sempat bergurau, bahwa singkatan SW yang lazim dikenal sebagai “Story WhatsApp” lebih cocok disebut “Sarung Wadimor”. Aku tidak tahu apakah itu lucu atau justru sangat tidak lucu, tapi kamu tertawa. Tertawa seperti anak kecil yang belum mengenal istilah peran sosial. Ringan, jujur, dan tanpa beban. Mungkin, itu adalah salah satu detik di mana aku merasa: ya, segalanya masuk akal saat kamu tertawa seperti itu. Kamu dan aku pernah tenggelam dalam percakapa...

GELAR BARU

Akhirnya, aku sampai juga. Mungkin tak secepat orang lain, tak semeriah mereka yang sejak awal tahu ke mana arah hidupnya. Tapi hari ini, aku menyandang sesuatu yang baru di belakang namaku—bukan sekadar gelar, tapi serpih-serpih dari malam panjang, dari air mata yang jatuh diam-diam, dari langkah yang tetap berjalan meski banyak ingin menyerah. Hari ini, semua itu bernama kelulusan. Barangkali inilah momen pengesahan terakhir dari sidang hidupku—putusan final dari perjuangan yang selama ini kuajukan dalam diam. Tapi jika ada yang paling ingin kusampaikan, maka ini bukan tentang toga atau transkrip nilai. Ini tentang kamu. Seseorang yang pernah hadir dengan cara yang tidak biasa—lewat percakapan ringan yang berubah jadi kebiasaan, lewat pertemuan acak yang tak lagi terasa kebetulan. Kamu yang tak pernah menanyakan bagaimana tulisan-tulisaku, tapi lebih peduli pada apakah aku sudah makan. Kamu yang tidak ikut di hari yudisiumku, tapi aku tahu: di setiap kesunyian bacaku, ada doamu yang ...

MERDEKA; KATA SIAPA?

Gambar
Seseorang bergumam, Merdeka, kata mereka adalah bebas memilih jalan hidup. Tapi bagiku, merdeka ibarat seseorang yang berjalan di padang luas, melihat oase di kejauhan namun tetap terikat pada langkah yang berat. Aku di sini, kamu di sana. Jarak ini panjang, dan setiap perbincangan kita seperti setetes air di tengah dahaga. Aku ingat betul caramu menaruh perhatian pada setiap cerita. Singkat, tapi cukup membuatku percaya bahwa kehangatan bisa lahir bahkan dari percakapan yang tak panjang. Sejak itu, entah mengapa, aku jatuh cinta. Kamu, dengan wajah teduh seperti halaman pertama sebuah kitab yang belum selesai kubaca. Kamu hadir dalam ceritaku bukan sekadar nama. Kamu yang pernah bercita-cita menjadi perawat, lalu penegak hukum, kini memilih jalan mulia sebagai pengajar. Sembari menunggu perlahan mimpimu terwujud. Aku kagum pada caramu menyalakan semangat anak-anak dengan kesabaran. Seakan setiap kata darimu adalah pelita kecil yang sanggup menuntun banyak langkah. Di seber...

JATUH, TENGAH BERAKHIR

Gambar
Aku pernah percaya bahwa semesta bisa menata ulang jalannya hanya untuk dua orang yang saling mengingat tapi belum pernah benar-benar saling mengenal. Bahwa mungkin aku dan kamu bukan pertemuan pertama, melainkan pengulangan dari sesuatu yang pernah selesai di kehidupan sebelum ini. Rasanya seperti mengenalmu lebih dulu sebelum aku sempat menyapamu. Wajahmu tidak asing, bahkan caramu tertawa pun terasa seperti gema dari masa yang tak tercatat dalam sejarah. Setiap pertemuan kecil, setiap perjumpaan singkat—semuanya membekas tanpa perlu dimaknai terlalu dalam. Aku jatuh hati bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu terasa seperti rumah yang pernah kutinggali dalam mimpi-mimpi yang paling sunyi. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan—perasaan itu tumbuh seperti akar kecil di dalam dada, tanpa pernah aku berani mencabut atau merawatnya terlalu terang-terangan. Aku kira waktu hanya butuh keberanian sedikit lagi agar semuanya bisa mengarah ke saling. Aku kira, ...