SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN
Beberapa hari terakhir, aku tidak lagi bermimpi indah—bukan karena dunia sedang murung, tapi karena malam tak lagi sempat kujadikan ruang istirahat. Tidur tak pernah benar-benar utuh, hanya jeda dari layar yang terus menyala, dari kertas-kertas yang penuh coretan, dari sistem deadline yang terasa seperti pasal yang terus menekan. Aku bukan sedang lelah, aku hanya sedang terus-menerus dituntut menjadi waras, di tengah perkara akademik yang tak kenal empati.
Lalu, di antara hiruk bab metodologi dan debat kecil tentang kerangka konseptual, ada harapan yang menjelma. Ia tidak datang sebagai ucapan semangat, tidak juga berupa pelukan. Ia hadir sebagai logika yang perlahan tersusun, sebagai kelegaan saat satu paragraf rampung tanpa keraguan. Mungkin beginilah cinta yang tidak melulu romantis: ia hadir dalam bentuk kesetiaan terhadap hal yang tidak selalu menyenangkan, tapi layak diperjuangkan.
Kamu, pernah ikut dalam sebagian awal cerita ini. Kita bukan sepasang tokoh utama di drama percintaan, tapi aku tahu kita punya sketsa kecil yang nyaris jadi nyata. Kamu pernah menemaniku mencari referensi di akhir pekan, pernah bertanya soal perbedaan norma dan doktrin. Tapi sebelum kita benar-benar menyelami cerita, kamu sudah pergi—entah karena waktu atau karena seseorang yang lebih pasti. Dan aku tidak menahan, karena tak semua kepergian perlu dicegah. Ada hal-hal yang cukup kita pahami, tanpa harus dimiliki.
Tapi aku tidak berjalan sendiri. Ada orang-orang yang secuil pun tak pernah menolak keluh kesahku, yang mengerti kapan aku hanya butuh didengar tanpa dikoreksi. Mereka tidak selalu hadir secara fisik, tapi kehadirannya terasa seperti alasan untuk terus lanjut. Namanya tak akan kutulis di lembar persembahan, tapi mereka tahu—karena ikhlas tak butuh panggung.
Aku lama diam di halaman persembahan bukan karena kekosongan isi, tapi karena terlalu banyak nama yang mampir di kepala. Dan dari semua nama, satu yang terus muncul justru kamu—yang dulu hampir jadi alasan. Tapi menuliskan namamu berarti aku harus siap dengan kenangan yang tak selesai. Aku memilih tidak, karena kadang kita harus belajar bahwa tidak semua hal yang besar harus diumumkan.
Sama seperti perkara hidup: tidak semua saksi perlu dihadirkan di depan majelis. Ada perasaan-perasaan yang cukup kita tanggung sebagai bagian dari proses, bukan sebagai bukti untuk pengakuan. Perjalanan ini punya suka, duka, gugup, percaya diri, dan semua fase yang tidak ada di panduan mahasiswa baru. Tapi semuanya nyata, dan menyisakan pelajaran yang bahkan tidak diajarkan dosen manapun.
Lucu, aku sempat ingin menuliskan nama motor tua yang kupakai sejak kelas enam. Rasanya lebih jujur. Ia tidak pernah protes diajak pagi-pagi ke kampus, bahkan saat tangkinya kosong atau bannya kempes. Ia tahu semua jalan tikus, semua warung bensin, semua tambal ban yang pernah kusinggahi. Jika aku menyebutnya, mungkin orang akan tertawa. Tapi bukankah begitu hidup? Yang menemanimu paling setia seringkali bukan manusia, tapi hal-hal sederhana yang tak pernah minta dikenang.
Yang tidak kuduga adalah: aku pernah membayangkan namamu tertulis rapi di bagian awal tugas akhirku. Tapi nyatanya, aku memilih menggantinya dengan diam. Bukan karena aku melupakanmu, tapi karena aku menghargai ruang yang pernah kita bagi tanpa mengikatnya dalam simbol atau tulisan. Ada cinta yang cukup hidup dalam diam—dan itulah bentuk penghormatan yang paling utuh.
Dan kini aku sadar, seutas kalimat persembahan bukan hanya tentang siapa yang pantas disebut, tapi tentang apa yang sudah aku lalui. Jujur, aku bangga bertahan sejauh ini. Bukan karena hasil akhirnya, tapi karena aku tidak berhenti meski semua tampak berat. Dan jika ada yang bisa kusimpulkan dari perjalanan ini, mungkin hanya satu: setiap rasa yang tulus, setiap langkah yang jujur, akan selalu pulang dalam bentuk berkah—meski tidak selalu dalam bentuk yang kita bayangkan.
Dalam sidang batin, aku divonis bersalah karena mencintaimu tanpa pasal perlindungan. Rasa ini seperti perkara tanpa bukti: sulit dijelaskan, tapi nyata menyakitkan dan kamu pergi tanpa pleidoi, hanya meninggalkan jejak tangis yang tak bisa dicabut dalam upaya banding.
Komentar
Posting Komentar