MAAF, MERINDUKANMU

Aku lelah, hari sudah larut malam. Aku berbaring memejamkan mata. Sudah kupaksakan, anehnya tak kunjung tidur juga. Hatiku terasa gelisah. Nampaknya sesuatu tengah terjadi pada diriku. Jiwaku tertimpa ganjalan sangat besar. Kerinduan. Aku rindu pada ruang dan waktu. Pada ruang yang belum sempat aku isi. Pada waktu yang jarang sekali aku sapa. Aku merasakannya, ingin sekali kembali ke ruangan itu. Menjemput tulisan kecil yang belum aku hapus. Pintaku, tulisannya akan abadi karena tempatnya jarang disinggahi.


Pernahkah kamu mengingat bagaimana saat aku menuliskan kisah kasih kita akan terjalin sangat cepat? Aku pernah mengandai pada kisah-kisah yang harusnya terukir serba indah. Cerita-cerita yang tidak akan bosan terdengar walaupun sudah seribu kali diulang. Pada sikap senantiasa lemah lembut untuk memanjakan dirimu yang terus-terusan aku damba. Tidak ada rasa acuh. Tidak sengaja menghindar. Tidak ada prasangka buruk satu sama lain. Aku terus memberi pujian pada dirimu.

Gadis mana yang tengah aku goda? pernahkah memberi sentuhan kecil untuk saling balas-membalas? memberi sedikit tendangan. Sampai sekarang masih membekas. Sungguh sakit dan menyenangkan. Tawa-tawa terlihat pudar saat kecemburuan tidak masuk dilogika. Aku memaksa diriku untuk menjadi canggung. Hatiku sangat rumit dan labil, belum sempat meminta maaf. Terlanjur salah mengartikan dan tidak enak untuk diperlihatkan. Apakah harus ada kata penyesalan? Kisahmu terlalu cepat berlalu, sulit sekali untuk dibenahi kembali.


Dalam tidurku berulang kali memimpikan dirimu. tidak satupun bertemu mimpi buruk. Seru dan sangat lucu. Entah menjadi simbol rasa suka atau kebencian aku tidak akan memperdulikan. Mata-mata binar saat bertatapan menjadi saksi. Meski sulit untuk menafsirkan, jujur aku sangat merindukan. Aku tidak pernah sekalipun bercerita tentang keburukan orang yang aku suka. Biarpun dirimu bercerita tentangku. Aku hanya bisa tersenyum biarkan saja. Aku tetap menyukaimu.

Anehnya semua itu hanya menjadi segelintir tulisan. Dambaan dari kisah dua puluh satu hari tengah melar. Orangnya masih ada, tinggal menunggu waktu mana lagi yang akan menerima. Tidakkah sama rasa itu pada dirimu? Jika tidak sungguh kejam sekali. Aku pernah menunjukkan semua ceritaku membahas perihal cinta, saat ini yang aku rasa hanya rindu, rindu dan rindu. Saat rindu tiba sebaiknya dijemput, saat rindu pulang segera diantar. Karena kita tidak akan pernah tahu di hari apa kita akan saling merindukan.


Rindu yang mendalam sebagai bukti cinta yang besar. Terkadang ketika tiba pada fase yang sudah beberapa aku alami. Rasanya sesekali aku ingin berada dekat denganmu. Mendengar segala keluh kesahmu. Aku siap memberikan seluruh waktuku. Aku tidak akan segan melihat orangku terlalu lama menganggur. Aku merencanakan berbagai hal agar semuanya bisa terwujud. Nyatanya rencanaku gagal dan teranulir. Oleh siapa? aku tidak pernah menyalahkan siapapun. 

Sungguh saat berbuat salah, yang kuingat hanya satu, mencintaimu. Benar atau salah kamu tahu jawabannya. Saat ini aku hanya bisa terdiam, walau penyesalan terkadang datang. Aku harus tetap tabah menerimanya. Aku juga sempat berpikir apakah aku berikan rasa cintaku pada orang yang keliru? Batinku berkata, lebih baik salah mencintai daripada salah membenci. Terdengar sedikit berlebihan. Nyatanya tidak ada paksaan dan terpaksa dalam mencintai, kecuali keduanya sama-sama menginginkan.

Rindu tidak pernah mengenal waktu, setiba-tiba ini, selarut ini, dan sememaksa ini. Jujur aku merindukanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN

SAID I LOVE YOU FOR 49 DAYS

SEPERTI LAGU // RUMAH KE RUMAH