KETIKA SAMBAL MENJADI SIMBOL

Adakah waktu dimana seseorang merasa jenuh dan ingin mencari angin segar untuk dihirup? Benar aku orangnya. Seringkali tidak pernah kudapati seseorang untuk aku ajak bertukar isi kepala. Jangan salah paham. Hanya karena kamu satu-satunya yang aku pikirkan, bukan berarti aku menukarkanmu dari kepalaku. Bukan!! Tapi sebagai teman bercerita maksudku. Tidak ada satupun. 

Malam itu aku mencoba untuk keluar, aku melihat banyak orang lewat berpasangan-pasangan. Aku jadi penasaran, bagaimana cara mereka menjalin kasih. Sebenarnya aku tidak ingin memikirkan hal lain selain dirimu, tapi mereka terlihat mesra. Dan memaksaku untuk berpikir lebih jauh. Apakah mereka sepasang suami-istri atau hanya sekedar praktek berumah tangga? Padahal dulu, seringkali belajar ilmu agama. Waktu masih kecil misalnya. Oh iya, sekarang sudah beranjak dewasa dan jauh dari orang tua. Sepertinya sah-sah saja. Begitu bukan?

Aku masih bingung, tempat mana yang harus aku tuju. Setengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun. "Tuhan memang luar biasa kenapa hujannya begitu mendadak" tuturku dalam benak. Hujannya besar-besar terasa sakit jika harus terkena muka. Aku mencari tempat berteduh, tepat di pos jaga samping warung angkringan favoritmu. Kebetulan ada seorang penjual gelang berteduh juga. Aku tidak sengaja melihat gelang tali unik. Aku mencoba memakainya di lengan sebelah kiri, sepertinya cocok dengan warna kulitku. Aku bertanya berapa harganya dan langsung membelinya. Gelangnya simpel, warna hitam dan aku suka. Ku sebut 'Gelang hitam simbol kesendirian'.

Hujan sudah menjadi musim yang harus ku terima untuk akhir-akhir ini, banyak hal yang bisa aku nikmati saat melihat beberapa air berjatuhan. Namun, ada satu yang paling membekas, kata orang berdoa di waktu hujan adalah hal Mujarab. Sementara aku masih saja penasaran apa mungkin bisa? Kalo biasanya permohonan-permohonan dari sekian doa dilangitkan, kali ini aku ingin cara yang berbeda. Dan aku mencoba untuk menghujankan setiap kalimat permohonan ku kepada tuhan. Doaku sederhana, aku ingin kamu tersenyum setiap saat dan tidak ada seorangpun mampu melukai hatimu.

Akhirnya hujannya sudah mereda. Kali ini tidak bisa aku lap, karena memang benar-benar hujan bukan sekedar air mata. Aku melanjutkan perjalanan sambil memandang lengan kiriku sesekali. Rupanya pria juga cocok memakai gelang tali. Setelah berteduh cukup lama, ternyata hujan juga mempengaruhi selera makan. Yang awalnya aku hanya ingin makan nasi angkringan, kini berubah ingin makan sate-satean. Aku membeli sate-satean pinggir jalan, sengaja memesan dengan sambal paling atas. Agar pikiranku hanya tertuju pada rasa sangat pedas. Sebentar aku ingin bertanya, bolehkah untuk memberikanku waktu sejenak agar tidak memikirkanmu?

Sate-sateannya sungguh sangat pedas, apa penjualnya sengaja ingin meracuniku atau memahami bagaimana situasi perasaanku saat itu? Mengingat beliau juga pernah mengalami masa muda dulu? Jujur sangat pedas tapi aku menikmati. Sambil memakannya tiba-tiba aku tersedak, aku sempat kaget. Kenapa kamu juga pergi di tempat yang sama, tepat di depan meja makanku. Kamu bersama anak kecil. Tatapan itu, apakah pria sepertiku bisa salah tingkah diperhatikan olehmu? Wajahmu yang begitu cerah berseri-seri, kira-kira sabun merek apa yang kamu pakai atau bedak apa yang menghiasi sampai terlihat sebegitu alami. Ternyata pesanan pedasku terasa hilang sia-sia, seketika semua terasa manis. Aku pesan sate-satean dan disuguhi pemandangan menawan. 

Caramu begitu rapi, ini aku yang masih dalam mimpi atau takdir sang ilahi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN

SAID I LOVE YOU FOR 49 DAYS

SEPERTI LAGU // RUMAH KE RUMAH