Postingan

SIKLUS TAWA

Gambar
Langit tertawan mendung angin merambak pada dua pasang nyawa. Bau debu jalanan mulai beraroma. Adakah kita pernah mengira sore ini akan turun hujan? kalau saja turun pertanda alam sedang bersedih hati dan tidak merelakan pertemuan kita. Begitu sebaliknya kalau tidak ada air menggenang pertanda cerita kita harus segera dilanjutkan. Aku menamainya dalam senyum dari atas awan. Tawa langit cerah terus-terusan tergambarkan. Mengirim pesan menjadi bagian terpenting yang tak patut ditinggalkan. Aku tidak punya keberanian kuat dalam mengutarakan suatu hal. Terutama saat menjadi kali pertama. Seharusnya aku berguru pada siapa? tetap saja aku harus berani menyampaikan. Perihal namamu menjadi kalimat pertama dalam templateku. Aku mengawali dan tidak pernah punya keinginan mengakhiri, bagaimana denganmu? Jujur akhir-akhir ini dirimu mulai mendekam di pikiran. Namamu aku pinjam di kepalaku, apa kamu izinkan? Bertemu rangkaian kedua dari putaran waktu yang pernah terlalui. Dari mana asal...

PADA RINDU

Gambar
Langit gelap bintang tak lagi terlihat purnama pun tak lagi terdengar. Pada malam aku sengaja membuang semua kartu-kartuku, tiket dimana menjadi harapan saat kisah kasih kita terbuai. Beberapa kisah yang kian usang, aku meminta maaf pada diriku ketika tidak sempat membuat dirimu tertawa sampai akhir cerita. Di tengah kisah sesaat hati terasa gundah. Aku juga tengah heran perihal sebab utama terwujud. Hatiku kacau diburu khawatir. Ingin berlama-lama denganmu tanpa rancu. Menggodamu setiap waktu.  Awalnya aku ingin membuat sekenario tentang kisah kasih yang berselang indah. Aku ingin menulis semua apapun yang terjadi pada kita. saat kali pertama pertemuan tiba. Perjumpaan yang tidak pernah menjadi dugaanku sebelumnya. Satu hal, aku selalu menyempatkan tuhanku saat asmara tiba-tiba melanda. Aku khawatir kalau apapun yang terjadi hanya kisah sesaat dan rasa penasaran saja. Aku tidak ingin kejadian seperti itu terjadi. Dalam kurun waktu yang tidak cukup lama, bagiku. Aku mas...

MAAF, MERINDUKANMU

Aku lelah, hari sudah larut malam. Aku berbaring memejamkan mata. Sudah kupaksakan, anehnya tak kunjung tidur juga. Hatiku terasa gelisah. Nampaknya sesuatu tengah terjadi pada diriku. Jiwaku tertimpa ganjalan sangat besar. Kerinduan. Aku rindu pada ruang dan waktu. Pada ruang yang belum sempat aku isi. Pada waktu yang jarang sekali aku sapa. Aku merasakannya, ingin sekali kembali ke ruangan itu. Menjemput tulisan kecil yang belum aku hapus. Pintaku, tulisannya akan abadi karena tempatnya jarang disinggahi. Pernahkah kamu mengingat bagaimana saat aku menuliskan kisah kasih kita akan terjalin sangat cepat? Aku pernah mengandai pada kisah-kisah yang harusnya terukir serba indah. Cerita-cerita yang tidak akan bosan terdengar walaupun sudah seribu kali diulang. Pada sikap senantiasa lemah lembut untuk memanjakan dirimu yang terus-terusan aku damba. Tidak ada rasa acuh. Tidak sengaja menghindar. Tidak ada prasangka buruk satu sama lain. Aku terus memberi pujian pada dirimu. Gadis mana yang ...