SEPERTI LAGU // RUMAH KE RUMAH

Pernahkah kamu mengingat bahwa kita dulu pernah punya selera musik yang sama? Playlist yang kita susun seperti daftar kenangan yang tak pernah ingin kita akhiri. Lagu-lagu itu menjadi suara latar saat kita berkendara tanpa arah, sambil berteriak—bukan karena marah, tapi karena kita ingin dunia tahu bahwa kita sedang bahagia. Kita tidak sekadar mendengarkan; kita hidup di dalam lagu-lagu itu, menyatu dalam lirik yang kadang terlalu jujur untuk diabaikan.

Namun segalanya berubah setelah kamu tak lagi ada. Aku pernah mencoba menyalakan satu dua lagu dari daftar lama itu, tapi dada terasa berat, seperti menarik napas di dalam ruang sempit. Lirik yang dulu membuatku tersenyum kini seperti serpihan kaca yang menggores dari dalam. Lagu yang kita hafal sampai ke detik heningnya kini menjadi penanda betapa sunyinya ruang setelah kepergiamu. Dan aku, entah kenapa, seperti kehilangan bahasa. Musik yang dulu menyelamatkanku kini justru melukai.

Ada hari-hari di mana aku sengaja menutup semua aplikasi pemutar lagu. Tak ada denting gitar atau suara vokal yang memanggil kenangan. Aku memilih mendengarkan bunyi kulkas, suara angin, atau langkah orang di luar jendela—apa saja, asal bukan lagu-lagu itu. Karena di antara nada-nada kecil, aku bisa mendengar suaramu memanggil namaku. Padahal kamu tidak pernah benar-benar kembali. Dan aku sadar, lagu yang kita cintai bersama telah menjadi ruang berkabung paling lirih dalam hidupku.

Yang paling menyakitkan bukan hanya kepergianmu, tapi bagaimana kamu pergi begitu cepat, begitu dingin, seolah semua yang pernah kita bagikan bisa disangkal hanya dengan diam. Aku bahkan tidak diberi waktu untuk bertanya. Lagu terakhir yang kamu putar adalah lagu yang kita sukai bersama, lalu setelah itu: sunyi. Kamu memilih diam, dan aku dipaksa berdamai dengan segala yang tertinggal, termasuk kenangan tentang dua orang yang pernah saling memahami lewat musik.

Kadang aku masih terbangun karena mimpi yang terlalu mirip hari itu. Kita berdua, tertawa di antara chorus dan verse, lalu kamu perlahan menjauh, mengecil, hilang, dan hanya meninggalkan gema lagu yang menggantung tanpa resolusi. Aku terjaga dengan jantung berdebar, dan lagu itu terus berputar di kepalaku, seolah memaksaku untuk mengingat bahwa pernah ada bahagia yang tak bisa kupertahankan.

Ada malam-malam ketika potongan melodi itu muncul dari tempat yang tak terduga: sound bluetooth kendaraan, video pendek di ponsel, atau speaker warung kopi yang kupijaki hanya sebentar. Dan setiap kali itu terjadi, aku tahu tubuhku masih belum sepenuhnya lupa. Satu bait bisa merontokkan tembok yang kubangun bertahun-tahun.

Aku ingin membenci lagu itu, tapi aku tak sanggup. Karena yang kulukai bukan musiknya, tapi diriku sendiri yang terlalu percaya bahwa sesuatu yang indah bisa berlangsung selamanya. Aku mencoba berdamai, tapi lagu itu selalu tahu di mana luka mengendap. Dan seperti hantu yang tidak lelah, ia datang lagi—pelan-pelan, menusuk, dan tinggal.

Dan jika suatu hari kamu memutarnya kembali di ruang lain, bersama orang yang bukan aku, semoga kamu tahu: ada seseorang yang masih menahan napas tiap kali lagu-lagu itu terdengar, bukan karena rindu—tapi karena patahnya tak kunjung sembuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN HARI RAYA

KENAPA TIDAK MEMILIH MENJADI SEPERTI KARTINI?

SEUTAS KALIMAT PERSEMBAHAN