SELAMAT PAGI, JOGJA
Selamat pagi, Jogja. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk mencari sesuatu yang pernah hilang — rasa yang dulu membuat jantungku berdetak tanpa alasan. Setiap sudut kotamu masih sama, aroma kopi dari warung kecil di dekat stasiun, langkah orang-orang yang bergegas menuju kampus, dan senyum asing yang kadang membuat hati tiba-tiba hangat. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kenangan. Ada yang bilang, Jogja selalu menyimpan cinta di tiap embusan angin paginya. Aku percaya itu, karena entah bagaimana, setiap kali aku menatap matahari terbit di Tugu, aku merasa sedang menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang. Cinta di kota ini seperti lagu yang lembut — tidak pernah benar-benar usai, hanya berganti lirik dari satu hati ke hati lain. Aku pernah jatuh cinta di sini, pada seseorang yang mengajarkan bahwa rindu bisa tumbuh bahkan tanpa janji. Dia seperti buku yang tidak sempat kuselesaikan, dan setiap kali aku membuka halaman barunya, yang ku...