Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

SELAMAT PAGI, JOGJA

Selamat pagi, Jogja. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk mencari sesuatu yang pernah hilang — rasa yang dulu membuat jantungku berdetak tanpa alasan. Setiap sudut kotamu masih sama, aroma kopi dari warung kecil di dekat stasiun, langkah orang-orang yang bergegas menuju kampus, dan senyum asing yang kadang membuat hati tiba-tiba hangat. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kenangan. Ada yang bilang, Jogja selalu menyimpan cinta di tiap embusan angin paginya. Aku percaya itu, karena entah bagaimana, setiap kali aku menatap matahari terbit di Tugu, aku merasa sedang menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang. Cinta di kota ini seperti lagu yang lembut — tidak pernah benar-benar usai, hanya berganti lirik dari satu hati ke hati lain. Aku pernah jatuh cinta di sini, pada seseorang yang mengajarkan bahwa rindu bisa tumbuh bahkan tanpa janji. Dia seperti buku yang tidak sempat kuselesaikan, dan setiap kali aku membuka halaman barunya, yang ku...

MAR? NAMAMU TERDENGAR SAMAR

Ada nama yang masih bergetar di antara ingatan, meski waktu berusaha mengaburkannya. Mar, begitu samar terdengar di telinga, seakan hanya bisikan angin yang enggan benar-benar pergi. Aku tidak tahu mengapa setiap huruf darinya bisa membuatku terhenti. Barangkali memang ada nama yang ditakdirkan hidup lebih lama dalam dada, ketimbang sekadar diucapkan. Aku ingat kali pertama mendengarmu dipanggil, ada denyut yang sulit dijelaskan. Sesuatu di dalam diriku merespons seolah sudah mengenalmu jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Nama itu sederhana, tapi memiliki gema yang panjang. Seperti nada yang tidak selesai dipetik, dibiarkan menggantung, tapi tetap terdengar indah. Marrr shh rrkh, aku sering kali berusaha meyakinkan diri bahwa kamu hanyalah bagian kecil dari cerita yang lewat. Namun, setiap percakapan singkat dengamu selalu menggoreskan kesan yang panjang. Aku seperti sedang berjalan di jalan sempit yang diapit tembok tinggi—sulit mencari jalan keluar, namun enggan juga berbalik arah. D...

JATUH HATI DI WAKTU YANG LAMA APA MASIH PANTAS DISEBUT JATUH CINTA?

Ibarat hujan yang tak kunjung reda, rasa ini seakan bertahan di satu musim. Aku tidak pernah tahu mengapa, setiap kali mengingatmu, hatiku masih bergetar dengan cara yang sama. Mungkin jatuh cinta memang tidak membutuhkan alasan, cukup sebuah tatap yang membekas. Dan aku masih terjebak di dalamnya, meski waktu terus mengikis. Ada yang bilang, cinta butuh keberanian untuk diucapkan sebelum terlambat. Tapi bagaimana jika waktu justru berjalan begitu lama, dan aku masih saja terjebak pada rasa yang sama? Aku pernah jatuh hati padamu, sederhana, tanpa banyak pertemuan, tanpa janji. Hanya lewat perhatian kecil, cara bicaramu, dan kehangatan yang tak pernah kutemukan di tempat lain.  Waktu berlalu, jarak menjauhkan, percakapan terputus. Namun setiap kali namamu terlintas, dada ini tetap bergetar seperti pertama kali aku mengenalmu. Apakah ini cinta, atau hanya kenangan yang terlalu enggan pergi? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa ini masih hidup, meski tidak lagi punya tempat untuk bertum...

WHERE IS YOU? (sebuah catatan ringan, dari aku yang tidak sedang bercanda sepenuhnya)

Ada satu masa yang sebenarnya belum terlalu lama berlalu, tetapi terasa seakan berasal dari waktu yang berbeda. Masa ketika mengenalmu tidak perlu disertai peta hidup lima tahun ke depan. Aku hanya mendengarkanmu, kamu menanggapi, dan keberadaanmu sudah cukup membuat semuanya terasa hangat. Tak ada target yang harus dicapai, tak ada ekspektasi untuk dipenuhi, bahkan tak ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan terlalu serius. Semua mengalir dengan sendirinya—seperti senyum kecil yang muncul tanpa diminta. Aku masih ingat, waktu itu aku sempat bergurau, bahwa singkatan SW yang lazim dikenal sebagai “Story WhatsApp” lebih cocok disebut “Sarung Wadimor”. Aku tidak tahu apakah itu lucu atau justru sangat tidak lucu, tapi kamu tertawa. Tertawa seperti anak kecil yang belum mengenal istilah peran sosial. Ringan, jujur, dan tanpa beban. Mungkin, itu adalah salah satu detik di mana aku merasa: ya, segalanya masuk akal saat kamu tertawa seperti itu. Kamu dan aku pernah tenggelam dalam percakapa...