Beberapa hari terakhir, aku tidak lagi bermimpi indah—bukan karena dunia sedang murung, tapi karena malam tak lagi sempat kujadikan ruang istirahat. Tidur tak pernah benar-benar utuh, hanya jeda dari layar yang terus menyala, dari kertas-kertas yang penuh coretan, dari sistem deadline yang terasa seperti pasal yang terus menekan. Aku bukan sedang lelah, aku hanya sedang terus-menerus dituntut menjadi waras, di tengah perkara akademik yang tak kenal empati. Lalu, di antara hiruk bab metodologi dan debat kecil tentang kerangka konseptual, ada harapan yang menjelma. Ia tidak datang sebagai ucapan semangat, tidak juga berupa pelukan. Ia hadir sebagai logika yang perlahan tersusun, sebagai kelegaan saat satu paragraf rampung tanpa keraguan. Mungkin beginilah cinta yang tidak melulu romantis: ia hadir dalam bentuk kesetiaan terhadap hal yang tidak selalu menyenangkan, tapi layak diperjuangkan. Kamu, pernah ikut dalam sebagian awal cerita ini. Kita bukan sepasang tokoh utama di dr...
Komentar
Posting Komentar