GELAR BARU
Akhirnya, aku sampai juga. Mungkin tak secepat orang lain, tak semeriah mereka yang sejak awal tahu ke mana arah hidupnya. Tapi hari ini, aku menyandang sesuatu yang baru di belakang namaku—bukan sekadar gelar, tapi serpih-serpih dari malam panjang, dari air mata yang jatuh diam-diam, dari langkah yang tetap berjalan meski banyak ingin menyerah. Hari ini, semua itu bernama kelulusan. Barangkali inilah momen pengesahan terakhir dari sidang hidupku—putusan final dari perjuangan yang selama ini kuajukan dalam diam. Tapi jika ada yang paling ingin kusampaikan, maka ini bukan tentang toga atau transkrip nilai. Ini tentang kamu. Seseorang yang pernah hadir dengan cara yang tidak biasa—lewat percakapan ringan yang berubah jadi kebiasaan, lewat pertemuan acak yang tak lagi terasa kebetulan. Kamu yang tak pernah menanyakan bagaimana tulisan-tulisaku, tapi lebih peduli pada apakah aku sudah makan. Kamu yang tidak ikut di hari yudisiumku, tapi aku tahu: di setiap kesunyian bacaku, ada doamu yang ...